Sabtu, 03 April 2010
keterampilan negosiasi
Negosiasi adalah bagian penting dalam kehidupan sehari-hari agar kita dapat bertahan dalam segala bidang kehidupan,baik yang bersifat formal maupun informal.Pengembangan ketrampilan dan percaya diri sangat dibutuhkan dalam melaksanakan negosiasi.
Inti dari negosiasi adalah mencapaikesepakatan dengan pihak lain, sehingga kita dapat mencapai tujuan.
Faktor yang menentukan keberhasilan negosiasi antara lain adalah:
1. Waktu persiapan yang memadai
2. Sasaran yang jelas.
3. Informasi yang jelas mengenai lawan negosiasi yang terlibat.
4. Strategi atau rencana negosiasi yang jelas.
5. Penggunaan taktik, penentuan waktu yang tepat untuk bernegosiasi.
6. Kesediaan semua pihak yang terlibat,untuk bersifat terbuka.
7. Kemauan untuk kompromi dari kedua belah pihak.
8. Tercapainya kesepakatan kedua belah pihak, dengan hasil yang jelas disertai pencatatan.
9. Kesepakatan benar-benar dilaksanakan.
Proses Negosiasi
Negosiasi merupakan suatu proses dengan struktur yang jelas dan dengan tahapan-tahapan yang sudah direncanakan sebelumnya. Struktur tersebut bisa diterapkan baik untuk negosiasi formal maupun informal.
Adapun langkah –langkah / proses negosiasi pada umumnya sbb:
1. Persiapan.
2. Meliputi penelitian, perencanaan strategi dan taktik negosiasi yang akan dilaksanakan.
3. Memulai negosiasi
4. Memberitahu fakta mengenai berbagai posisi dan kepentingan yang berbeda.
5. Memimpin negosiasi.
6. Meliputi pembagian posisi, berbagai penawaran, identifikasi keuntungan, serta usaha menemukan kesamaan.
7. Bergerak menuju kesepakatan.
8. Mencapai kesepakatan.
9. Mengakhiri negosiasi dan mencatat hasil/ kesepakatan yang dicapai .
10. Menindaklanjuti hasil negosiasi.
Jenis-jenis negosiasi
1. Negosiasi win – win :
Kedua belah pihak memperoleh keuntungan yang seimbang
2. Negosiasi win lose :
Kemenangan salah satu negosiator diatas kekalahan negosiator yang lain
3. Negosiasi koersif :
Menggunakan kekuatan untuk menekan lawan
4. Negosiasi manipulatif :
Menggunakan janji – janji untuk membujuk lawan diskusi
Keuntungan yang didapat dari negosiasi
1. Tercapainya tujuan
2. Kontrol yang lebih besar atas pekerjaan
3. Hubungan yang lebih baik dengan para kolega
4. Mencegah dan menyelesaikan konflik
5. Kepercayaan dari orang lain untuk bekerja sama
6. Mendapat pelayanan yang lebih baik
Proses Negosiasi
1. persiapan
2. memulai negosiasi
3. memimpin negosiasi
4. bergerak menuju kesepakatan
5. mencapai kesepakatan
6. tindak lanjut hasil negosiasi
Kesimpulan
Proses negosiasi berprinsip diawali dengan tahap persiapan hingga mencapai kesimpulan, dan melakukan tindak lanjut
Keterampilan komunikasi mengena sangat penting dalam membangun hubungan yang efektif dengan mitra negosiasi.
Keterampilan negosiasi akan semakin terasa bila sering berlatih, jadi sebaiknya anda segera menerapkannya dalam peran kehidupan anda.
Daftar Pustaka
Jackman Ann, HOW TO NEGOTIATE, Erlangga, Jakarta, 2005
Supervisi kelas
Dalam organisasi pendidikan (dalam hal ini sistem sekolah), istilah supervisi sudah lama dikenal dan dibicarakan. Istilah “supervisi kelas” mengacu kepada misi utama pembelajaran, yaitu kegiatan yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan prestasi akademik. Dengan kata lain, supervisi kelas adalah kegiatan yang berurusan dengan perbaikan dan peningkatan proses dan hasil pembelajaran di sekolah.
Dalam konteks profesi pendidikan, khususnya profesi mengajar, mutu pembelajaran merupakan refleksi dari kemampuan profesional guru. Karena itu, supervisi kelas berkepentingan dengan upaya peningkatan kemampuan profesional guru yang berdampak terhadap peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. Dengan demikian fungsi supervisi kelas adalah salah satu mekanisme untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam upaya mewujudkan proses belajar peserta didik yang lebih baik melalui cara mengajar yang lebih baik pula. Dalam analisis terakhir, keefektifan supervisi kelas indikatornya adalah peningkatan hasil belajar peserta didik.
Sasaran supervisi kelas adalah:
a. Proses pembelajaran peserta didik.
b. Menjadikan kepala sekolah dan guru sebagai professional learners.
c. Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk memiliki kemampuan manajemen sumber daya pendidikan
a. Proses pembelajaran peserta didik.
Proses pembelajaran peserta didik mempunyai tujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Proses pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: guru, peserta didik, kurikulum, alat dan buku-buku pelajaran, serta kondisi lingkungan sosial dan fisik sekolah. Dalam konteks ini, guru merupakan faktor yang paling dominan. Karena itu, supervisi kelas menaruh perhatian utama pada upaya-upaya yang bersifat memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk berkembang secara profesional, sehingga mereka lebih mampu dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu melaksanakan dan meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang direfleksikan dalam kemampuan-kemampuan, antara lain: (1) Kemampuan merencanakan kegiatan pembelajaran; (2) Kemampuan melaksanakan kegiatan pembelajaran; (3) Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran;(4) Kemampuan memanfaatkan hasil penilaian bagi peningkatan layanan pembelajaran; (5) Kemampuan memberikan umpan balik secara tepat, teratur, dan terus-menerus kepada peserta didik; (6) Kemampuan melayani peserta didik yang mengalami kesulitan belajar; (7) Kemampuan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan; (8) Kemampuan mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu dan media pembelajaran; (9) Kemampuan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia; (10) Kemampuan mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode, dan teknik) yang tepat; dan (11) Kemampuan melakukan penelitian praktis bagi perbaikan pembelajaran.
b. Menjadikan kepala sekolah dan guru sebagai professional learners.
Sasaran lain dari supervisi pendidikan adalah menjadikan kepala sekolah dan guru sebagai professional learners, yaitu para profesional yang menciptakan budaya belajar dan mereka mau belajar terus menyempurnakan pekerjaannya. Budaya ini memungkinkan terjadinya peluang inovasi dari bawah (bottom-up innovation) dalam proses pembelajaran
Pemberdayaan akuntabilitas profesional guru hanya akan berkembang apabila didukung oleh penciptaan budaya sekolah sebagai organisasi belajar. Istilah organisasi belajar dimaksudkan sebagai suatu organisasi di mana para anggotanya menunjukkan kepekaan terhadap masalah-masalah yang dihadapi dan berupaya untuk mengatasi masalah tersebut tanpa desakan atau perintah dari pihak luar. Kepala sekolah dan guru tidak hanya bekerja menunaikan tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya, melainkan pula memiliki sikap untuk selalu meningkatkan mutu pekerjaannya, dan oleh karenanya mereka terus belajar untuk mempelajari cara-cara yang paling baik. Mereka dapat dikelompokkan sebagai “professional learners”.
c. Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk memiliki kemampuan manajemen sumber daya pendidikan
Kemampuan manajemen sumber daya pendidikan meliputi kemampuan dalam pengadaan, penggunaan/pemanfaatan, dan merawat/memelihara. Hal ini disebabkan karena aspek yang akan mendukung pemberdayaan akuntabilitas profesional guru adalah tersedianya sumber daya pendidikan untuk mendukung produktivitas sekolah, khususnya mendukung proses pembelajaran yang bermutu. Alat peraga, alat pelajaran, fasilitas laboratorium, perpustakaan, dan sejenisnya sangat diperlukan bagi terwujudnya proses pembelajaran yang bermutu. Sumber daya pendidikan seperti itu memungkinkan peserta didik terlibat secara aktif melalui bervariasinya kegiatan pembelajaran yang lebih kaya.
2. Prinsip-Prinsip Supervisi Kelas
Supervisi kelas dilaksanakan atas dasar keyakinan sebagai berikut:
a. Pengawasan terhadap penyelenggaraan proses pembelajaran (PBM) hendaknya menaruh perhatian yang utama pada peningkatan kemampuan profesional gurunya, yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran;
b. Pembinaan yang tepat dan terus-menerus yang diberikan kepada guru-guru berkontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran;
c. Peningkatan mutu pendidikan melalui pembinaan profesional guru didasarkan atas keyakinan bahwa mutu pembelajaran dapat diperbaiki dengan cara paling baik di tingkat sekolah/kelas melalui pembinaan langsung dari orang-orang yang bekerjasama dengan guru-guru untuk memperbaiki mutu pembelajaran;
d. Supervisi yang efektif dapat menciptakan kondisi yang layak bagi pertumbuhan profesional guru-guru. Kondisi ini ditumbuhkan melalui kepemimpinan partisipatif, di mana guru-guru merasa dihargai dan diperlukan. Dalam situasi seperti ini akan lahir saling kepercayaan antara para pembina (pengawas, kepala sekolah) dengan guru-guru, antara guru dengan guru, dan di antara pembina sendiri. Guru-guru akan merasa bebas membicarakan pekerjaannya dengan pembina jika ada keyakinan bahwa pembina akan menghargai pikiran dan pendapatnya;
e. Supervisi yang efektif dapat melahirkan wadah kerjasama yang dapat mempertemukan kebutuhan profesional guru-guru. Melalui wadah ini, guru-guru memiliki kesempatan untuk berpikir dan bekerja sebagai suatu kelompok dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari di bawah bimbingan pembina dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran;
f. Supervisi yang efektif dapat membantu guru-guru memperoleh arah diri, memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi sehari-hari, belajar memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari dengan imajinatif dan kreatif. Dalam suasana seperti itu, pemikiran dan alternatif pemecahan masalah, maupun gagasan inovatif akan muncul dari bawah dalam upaya menyempurnakan proses pembelajaran tanpa menunggu instruksi atau petunjuk dari atas. Dengan demikian, supervisi yang efektif dapat merangsang kreativitas guru untuk memunculkan gagasan perubahan dan pembaruan yang ditujukan untuk memperbaiki proses pembelajaran; dan
g. Supervisi yang efektif hendaknya mampu membangun kondisi yang memungkinkan guru-guru dapat menunaikan pekerjaanya secara profesional, ketersediaan sumber daya pendidikan yang diperlukan memberi peluang kepada guru untuk mengembangkan proses pembelajaran yang lebih baik.
Kegiatan supervisi kelas diwujudkan oleh para supervisor dalam bentuk sikap dan tindakan yang dilakukan dalam interaksi antara supervisor dengan guru-guru. Kegiatan tersebut selain memperhatikan konsep/teori di atas sebagai landasan dan keyakinan dalam melaksanakan tugas dan fungsionalnya, supervisor juga perlu memperhatikan dan berpedoman pada prinsip-prinsip supervisi, yaitu ;
a. Supervisi hendaknya dimulai dari hal-hal yang positif;
b. Hubungan antara para pengawas dengan guru-guru hendaknya didasarkan atas hubungan kerja secara profesional;
c. Pembinaan profesional hendaknya didasarkan pada pandangan objektif;
d. Pembinaan profesional hendaknya didasarkan atas hubungan manusiawi yang sehat;
e. Pembinaan profesional hendaknya mendorong pengembangan inisitif dan kreativitas guru-guru;
f. Pembinaan profesional harus dilaksanakan terus-menerus dan berkesinambungan;
g. Pembinaan profesional hendaknya dilakukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing guru; dan
h. Pembinaan profesional hendaknya dilaksanakan atas dasar rasa kekeluargaan, kebersamaan, keterbukaan, dan keteladanan.
3. PERANAN DAN PERILAKU SUPERVISOR
a. Peranan Supervisor
Pembinaan profesional dilakukan karena satu alasan, yaitu memberdayakan akuntabilitas profesional guru yang pada gilirannya meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Untuk maksud tersebut, para supervisor hendaknya melakukan peranan sebagai berikut:
1) Peneliti. Seorang supervisor dituntut untuk mengenal dan memahami masalah-masalah pengajaran. Karena itu ia perlu mengidentifikasi masalah-masalah pengajaran dan mempelajari faktor-faktor atau sebab-sebab yang mempengaruhinya.
2) Konsultan atau Penasihat. Seorang supervisor hendaknya dapat mem-bantu guru untuk melakukan cara-cara yang lebih baik dalam mengelola proses pembelajaran. Oleh sebab itu, para pengawas hendaknya selalu mengikuti perkembangan masalah-masalah dan gagasan-gagasan pendidikan dan pengajaran mutakhir. Ia dituntut untuk banyak membaca dan menghadiri pertemuan-pertemuan profesional, sehingga ia memiliki kesempatan untuk saling tukar informasi tentang masalah-masalah pendidikan dan pengajaran yang relevan, yaitu gagasan-gagasan baru mengenai teori dan praktik pengajaran.
3) Fasilitator. Seorang supervisor harus mengusahakan agar sumber-sumber profesional, baik materi seperti buku dan alat pelajaran maupun sumber manusia yaitu narasumber mudah diperoleh guru-guru. Dengan perkataan lain, hendaknya supervisor dapat menyediakan kemudahan-kemudahan bagi guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
4) Motivator. Seorang supervisor hendaknya membangkitkan dan memelihara kegairahan kerja guru untuk mencapai prestasi kerja yang semakin baik. Guru-guru didorong untuk mempraktikkan gagasan-gagasan baru yang dianggap baik bagi penyempurnaan proses pembelajaran, bekerjasama dengan guru (individu atau kelompok) untuk mewujudkan perubahan yang dikehendaki, merangsang lahirnya ide baru, dan menyediakan rangsangan yang memungkinkan usaha-usaha pembaruan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
5) Pelopor Pembaharuan. Para supervisor jangan merasa puas dengan cara-cara dan hasil yang sudah dicapai. Pengawas harus memiliki prakarsa untuk melakukan perbaikan, agar guru pun melakukan hal serupa. Ia tidak boleh membiarkan guru mengalami kejenuhan dalam pekerjaannya, karena mengajar adalah pekerjaan dinamis. Guru-guru perlu dibantu untuk menguasai kecakapan baru, untuk itu para supervisor harus menyusun program latihan dan pengembangan dengan cara merencanakan pertemuan atau pena-taran sesuai dengan kebutuhan setempat. Supervisi sebagai pembinaan profesional guru diwujudkan dalam perilaku para supervisor sebagai pembina.
b. Perilaku Supervisor
Perilaku supervisor tergantung pada pemahamannya mengenai tujuan pembinaan profesional. Jika dianalisis, tingkat kualitas perilaku pembinaan berwujud: (1) memperhatikan, (2) mengerti atau memahami, (3) membantu dan membimbing, (4) memupuk evaluasi diri bagi perbaikan dan pengem-bangan, (5) memupuk kepercayaan diri, dan (6) memupuk, mendorong bagi pengembangan inisiatif, kreativitas, dan pertumbuhan diri secara profesional.
Supervisor diharapkan memiliki perilaku pembinaan profesionalnya pada tingkat tertinggi. Secara rinci ciri supervisor yang baik adalah (1) Baik hati, (2)Murah hati, (3) Mendengarkan Anda, (4) Menyemangati Anda, (5) Mempercayai Anda, (6) Menjaga kepercayaan diri, (7) Memberi kesempatan untuk memahami, (8) Membantu Anda, (9) Mendengar dan memperhatikan pendapat Anda., (10) Menyampaikan hasil kerja Anda, (11) Tidak gampang menyerah, (12) Membuat Anda merasa pintar, (13) Mengganggap mitra, (14) Menyatakan kebenaran, (15) Memaafkan
C.
PELAKSANAAN SUPERVISI PENGAJARAN
Dalam melaksanakan proses supervisi pengajaran, terdapat empat tahap kegiatan yang memerlukan kriteria serta teknik tertentu, agar dapat berjalan lancar, yaitu: (1) Tahap Perencanaan, (2) Tahap Pelaksanaan, (3) Tahap Pelaporan dan (4) Tahap Tindak Lanjut.
1. Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan supervisor harus menyiapkan dan menentukan metode serta pendekatan yang akan digunakan dalam kegiatan supervisi.
Beberapa kriteria dan teknik perencanaan supervisi antara lain: (1) mengadakan pertemuan dengan guru dalam suasana yang menyenangkan, tidak “mengancam” dan menakuti; (2) menentukan bersama segi apa yang harus diamati selama pelajaran berlangsung dan bagaimana mencatat hasil observasi; (3) jika ada, supervisor menanyakan pengalaman penampilan masa lalu untuk melihat segi-segi atau sub-keterampilan yang akan diperbaiki atau disempurnakan; dan (4) berdasarkan pertemuan awal dengan guru tersebut, maka supervisor menyiapkan dan menyusun format program supervisi yang digunakan untuk mengarahkan kegiatan supervisi yang akan dilaksanakan.
Program supervisi yang baik disusun secara realistis yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan setempat di sekolah itu atau di wilayah itu. Untuk menyusun program seperti itu, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi Masalah Proses Pembelajaran
Mengidentifikasi masalah-masalah proses pembelajaran yang dihadapi guru sehari-hari yang ada di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melakukan observasi kelas, menyelenggarakan rapat sekolah, wawancara informal atau pertemuan pribadi dengan guru, menghadiri pertemuan MGBS, SPKG/PKG, analisis laporan daya serap, dan cara lain yang dapat dilakukan sesuai dengan kreativitas para pembina sendiri.
b. Menganalisis Masalah
Masalah-masalah profesional yang berhasil diidentifikasi, selanjutnya perlu dikaji lebih lanjut dengan maksud untuk memahami esensi masalah yang sesungguhnya dan faktor-faktor penyebabnya, selanjutnya masalah-masalah tersebut diklasifikasi dengan maksud untuk menemukan masalah yang mana yang dihadapi oleh kebanyakan guru di sekolah atau di wilayah itu.
c. Merumuskan cara-cara pemecahan masalah
Dalam proses pengkajian terhadap berbagai cara pemecahan yang mungkin dilakukan, setiap alternatif pemecahan dipelajari kemungkinan keterlaksanaannnya dengan cara mempertimbangkan faktor-faktor peluang yang dimiliki, seperti fasilitas dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi. Alternatif pemecahan masalah yang terbaik adalah alternatif yang paling mungkin dilakukan, dalam arti lebih banyak faktor-faktor pendukungnya dibandingkan dengan kendala yang dihadapi. Di samping itu, alternatif pemecahan yang terbaik memiliki nilai tambah yang paling besar bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.
d. Implementasi Pemecahan masalah
Saat yang paling kritis dalam setiap upaya perbaikan pengajaran adalah apakah guru-guru mempraktikkan gagasan yang telah dipahaminya di kelas. Hasil pemecahan masalah bukan sekedar untuk dipahami, akan tetapi yang lebih penting adalah pelaksanaannya di kelas. Hal ini sangat penting, karena upaya perbaikan atau pembaharuan pengajaran apapun tidak akan mempunyai dampak terhadap peningkatan proses dan hasil belajar mengajar apabila tidak dipraktikkan di kelas.
e. Evaluasi dan Tindak lanjut
Evaluasi dalam supervisi adalah proses pengumpulan informasi yang diperlukan untuk selanjutnya digunakan bagi upaya perbaikan pengajaran lebih lanjut. Bahan-bahan yang diperoleh tersebut selanjutnya dimanfaatkan untuk menyusun kegiatan tindak lanjut yang sekaligus menjadi masukan penyusunan program pembinaan selanjutnya.
Sebagai gambaran, berikut disajikan contoh format program supervisi pengajaran yang dilakukan supervisor (kepala sekolah dan atau pengawas) terhadap guru.
Contoh 1
FORMAT PROGRAM SUPERVISI PENGAJARAN
SUPERVISOR*) TERHADAP GURU
Nama Guru : …………………………
NAMA SEKOLAH : …………………………
Alamat : …………………………
Kelas/Semester : …………………………
No Tujuan Sasaran Jenis Kegiatan Instrumen Waktu
Jakarta, ……………………
Supervisor *)
Contoh 2
CONTOH PROGRAM KERJA PEMBINAAN :
SUPERVISI & PENGAWASAN BIDANG AKADEMIK DI SD
No Kegiatan Bulan Penanggung
jawab
7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
1. Perencanaan
Penentuan tujuan supervisi akademik
Analisis kegiatan supervisi dan pengawasan
Analisis waktu, tenaga, biaya unrtuk kegiatan supervisi
dan pengawasan
Analisis permasalahan yang muncul
Pembuatan program pembinaan
2. Pengumpulan data
3. Pelaksanaan pembinaan
4. Evaluasi dan tindak lanjut
Beberapa pertimbangan dalam penyusunan program supervisi
a. Keterlibatan aktif pengawas, Kepala Sekolah dan guru dalam menganalisis kebutuhan peningkatan program sekolah
b. Keefektifan kegiatan dipahami semua pihak di sekolah.
c. Efisiensi dalam pendayagunaa waktu, tenaga, dan biaya
d. Kontinyuitas pelaksanaan program dari waktu ke waktu
e. Fleksibilitas kegiatan perlu dilakukan tanpa mengurangi keefektifan kegiatan
2. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan kegiatan lapangan supervisor dengan mengadakan kunjungan/observasi tentang apa yang akan disupervisi sesuai dengan rencana program. Fungsi utama observasi adalah berusaha “menangkap” apa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung secara lengkap, agar supervisor dan guru dapat secara tepat mengingat kembali pembelajaran atau bagian dari pembelajaran. Tujuan tahapan ini mengadakan analisis secara objektif terhadap situasi nyata pembelajaran yang berlangsung. Untuk mencatat atau merekam penampilan mengajar guru dan atau situasi pembelajaran yang akan diobservasi, dapat digunakan berbagai format atau instrumen observasi. Ide pokok adalah mencatat “apa yang terjadi” dan bukan “reaksi supervisor tentang apa yang terjadi”. Suatu catatan ataupun rekaman supervisi yang disimpan dengan baik akan bermanfaat dalam analisis dan komentar kemudian. Kepala sekolah dan atau pengawas perlu melatih diri agar memiliki kepekaan terhadap indikator-indikator yang menunjukkan sikap, perilaku dan proses yang produktif sesuai dengan tuntutan situasi kegiatan tertentu.
Hal-hal yang harus diperhatikan pada tahap observasi ini adalah:
a. Kelengkapan Catatan
Supervisor diharapkan untuk mencatat sebanyak mungkin kejadian-kejadian selama pembelajaran berlangsung. Hasil pencatatan merupakan bukti-bukti bagi guru dan supervisor untuk dikemukakan pada waktu menganalisis apa yang telah terjadi selama pelajaran berlangsung. Semakin spesifik yang digambarkan, semakin berarti analisis supervisor, oleh karena itu penggunan alat bantu perekam, baik audio maupun video, akan sangat membantu.
b. Fokus
Karena tidak mungkin untuk mencatat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas, maka supervisor harus memiliki aspek-aspek keterampilan yang akan dicatat. Hal ini sebaiknya dilakukan dengan persetujuan guru sebelumnya yaitu di dalam pertemuan pendahuluan, yang sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya diwujudkan dalam bentuk semacam kontrak. Misalnya dalam suatu pelajaran tertentu adalah baik untuk memfokuskan observasi tersebut pada reaksi siswa terhadap pernyataan guru, atau pada penyebaran pertanyaan, dan sebagainya.
c. Menyesuaikan Observasi dengan Periode Perkembangan Mengajar Guru
Observasi mungkin harus menjadi lebih selektif bila praktik atau latihan mengajar guru berkembang. Jika perhatian lebih terfokus pada aspek-aspek yang guru inginkan untuk lebih diperhatikan misalnya guru mempunyai kesulitan mengadakan transisi dalam pelajaran maka hal tersebut merupakan sesuatu yang perlu difokuskan dalam observasi.
d. Mencatat Komentar
Walaupun proses mencatat harus seobjektif mungkin, supervisor sering ingin mencatat komentar-komentarnya agar tidak terlupakan. Cara terbaik untuk melakukan hal ini adalah dengan memisahkan komentar dari catatan tentang proses pengajaran. Catatan ini ditempatkan pada tepi format observasi atau dengan menggunakan tanda kurung.
e. Pola
Adalah sangat bermanfaat untuk mencatat pola tingkah laku mengajar tertentu dari guru misalnya dalam memberikan penguatan atau dalam mereaksi terhadap pertanyaan siswa untuk dibicarakan dalam tahap pertemuan pengkajian hasil observasi mengajar.
Contoh lembar pengamatan:
Rubrik Penilaian Keterampilan Mengajar Berbasis CTL
Nama Praktikan :
Mata Pelajaran :
Berilah tanda cek (V) sesuai dengan hasil pengamatan Anda!
No Aspek Deskriptor Ya Tidak Bukti
1. Pendahuluan a. Mengaitkan kompetensi yang akan dicapai dengan konteks (masalah kehidupan, nyanyian, puisi, atau pertanyaan) yang sesuai dengan kompetensi
b. Mengemukakan kebermanfaatan kompetensi yang akan dicapai dalam kehidupan
2. Inti c. Melibatkan siswa untuk mengamati, menemukan, dan menerapkan kompetensi yang akan dipelajari
d. Menggunakan media dan memberi model (prosedur maupun produk) sesuai dengan kompetensi
e. Memberi kesempatan siswa untuk bekerja sama
f. Melakukan penilaian sehingga siswa tahu apakah kompetensi sudah tercapai
g. Memberdayakan pertanyaan provokatif untuk merangsang kemampuan berpikir kritis dan kreatif
h. Memberdayakan berbagai media dan teknik agar pembelajaran menyenangkan (siswa tidak tertekan, pemberian penguatan, pemberdayaan humor)
3. Penutup i. Melakukan refleksi tentang apa yang dipahami, dirasakan, dan diharapkan
j. Memberi pengayaan untuk memperluas dan memperdalam kompetensi
Catatan
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
Kriteria Penilaian :
• Sangat baik : apabila terdapat 10 jawaban Ya
• Baik : apabila terdapat 8-9 jawaban Ya
• Cukup : apabila terdapat 6-7 jawaban Ya
• Kurang : apabila jawaban Ya < 6
3. Tahap Pelaporan
Laporan hasil pelaksanaan supervisi ditujukan kepada pimpinan dan kepada orang yang disupervisi. Kepada atasan atau pimpinan, laporan hasil supervisi dimaksudkan untuk memberikan laporan mengenai temuan-temuan yang diperoleh dari kegiatan supervisi dan selanjutnya dijadikan bahan untuk melakukan pembinaan kompetensi profesional bagi orang yang disupervisi.
Laporan untuk pihak yang disupervisi dimaksudkan sebagai balikan dalam upaya menyadarkan posisi kinerja dan meningkatkan kompetensi profesionalnya. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan dalam laporan supervisi untuk pihak yang disupervisi, perlu memperhatikan aspek-aspek psikologis, fisiologis, latar belakang pendidikan, masa kerja, dan aspek lainnya yang berhubungan dengan harga diri pihak yang disupervisi.
CONTOH OUTLINE LAPORAN HASIL PELAKSANAAN SUPERVISI PENGAJARAN
1. Bab I Pendahuluan
A. Dasar Pemikiran (Menyajikan uraian tentang kedudukan dan pentingnya supervisi dalam pengelolaan pembelajaran).
B. Tujuan Supervisi (Menjelaskan tujuan supervisi kelas dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan).
C. Manfaat (Menjelaskan dampak positif pelaksanaan supervisi).
D. Metode (Menjelaskan cara yang digunakan dalam melaksanakan supervisi kelas).
2. Bab II Pelaksanaan Supervisi
A. Waktu dan Sasaran (Menginformasikan kapan supervisi dilaksanakan dan siapa saja yang disupervisi).
B. Ruang Lingkup (Menjelaskan aspek-aspek yang disupervisi).
C. Instrumen yang Digunakan (Menjelaskan alat pengumpul data yang digunakan dalam kegiatan supervisi).
D. Teknik Analisis Data (Menjelaskan teknik perhitungan yang digunakan dalam mengolah data untuk merumuskan kesimpulan).
E. Temuan (Melaporkan hasil yang diperoleh sesuai dengan ruang lingkup).
F. Pemecahan Masalah (Menjelaskan langkah pemecahan masalah yang telah dilakukan pengawas).
3. Bab III Hasil Supervisi
(Memaparkan tentang tingkat ketercapaian masing-masing tujuan supervisi).
4. Bab IV Kesimpulan dan Rekomendasi
A. Kesimpulan (Menyajikan kesimpulan atas hasil supervisi pengajaran yang telah dilaksanakan).
B. Rekomendasi (Menyajikan beberapa rekomendasi ke arah pembinaan dan peningkatan profesional guru dalam PBM).
4. Tahap Tindak Lanjut
Tindak lanjut merupakan suatu informasi kepada guru tentang bagaimana guru mempengaruhi siswanya dalam kegiatan belajar mengajar. Tindak lanjut ini biasanya dilakukan dengan supervisi kelas. Untuk mencapai maksud tersebut maka tindak lanjut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Lebih Bersifat Deskriptif daripada Evaluatif : Fungsinya adalah analisis untuk menghasilkan perubahan dengan memperinci tingkah laku guru sebagai hasil mengajarnya. Hal tersebut akan menolong guru untuk kemudian dapat menggunakannya apabila itu sesuai. Dengan menghindari bahasa yang lebih bersifat evaluatif maka akan terkurangi reaksi atau sikap defensif guru.
b. Bersifat Spesifik: Menjelaskan lebih rinci tentang apa yang masih harus diperbaiki atau dikembangkan guru dalam metoda dan stategi mengajarnya.
c. Memenuhi Kebutuhan Baik Supervisor Maupun Guru: Suatu balikan tidak akan bermanfaat apabila ia hanya memenuhi kebutuhan supervisor sebagai pemberi balikan dan mengabaikan kebutuhan guru sebagai penerima balikan tersebut.
d. Ditujukan untuk Tingkah Laku Guru yang Cepat Dikendalikanny: Seorang guru akan mengalami frustrasi apabila ia diingatkan tentang sesuatu kekurangan yang berada di luar kemampuannya untuk diatasi atau dipecahkan, misalnya supervisor menegur karena tubuhnya yang pendek sehingga ia sukar menguasai kelas dengan baik. Untuk hal ini tentu guru tidak dapat berbuat apa-apa.
e. Isi Balikan Merupakan Permintaan Guru dan Bukan yang Diadakan oleh Supervisor
f. Tepat Waktunya: Balikan akan lebih bermanfaat apabila segera diberikan sesudah pelaksanaan mengajar.
g. Harus Terkomunikasikan secara Jelas Kepada Guru: Untuk melakukan hal ini guru diminta untuk mengatakan kembali apa yang menjadi target serta perhatian utamanya guna membandingkan dengan yang dimaksud oleh supervisor.
h. Mencocokannya dengan yang Diberikan Kelompok: Apabila balikan itu diberikan dalam kelompok, maka guru dan supervisor harus mempunyai kesempatan untuk mencocokannya dengan yang diberikan kelompok untuk menguji ketepatan balikan tersebut. Dengan demikian dapat di-ketahui apakah balikan tersebut merupakan kesan satu orang atau merupakan kesan orang lain juga.
i. Menolong Guru Memperhatikan Kelebihannya
Harus dapat menolong guru memperhatikan kelebihan-kelebihannya untuk mengembangkan gaya mengajarnya sendiri. Dalam hal ini perlu diberi penguatan untuk cara mengajar yang efektif tersebut.
j. Menunjukkan keunggulan-keunggulan: Hendaknya dimulai dulu dengan menunjukkan keunggulan-keunggulan atau segi-segi yang kuat, baru kemudian mendiskusikan segi-segi yang menimbulkan masalah baginya.
k. Data balikan harus disimpan dengan baik: Data balikan dalam bentuk instrumen observasi harus disimpan dengan baik oleh supervisor dan merupakan catatan mengenai perkembangan keterampilan mengajar guru, seperti kartu status pasien seorang dokter yang sewaktu-waktu dapat digunakan bila diperlukan.
Umpan balik yang efektif setelah supervisi adalah: (1) Memfokuskan pada perilaku dan bukan pada sentimen pribadi, (2) Fokus satu aspek, (3) Mengarah pada perilaku yang bisa diubah, (4) Mengarah pada AKIBAT dan bukan PENYEBAB dari suatu masalah, (5) Jelas, (6) Memberi umpan balik tepat waktu, (7) Memuji di depan publik, mengkritik secara pribadi, (8) Memeriksa apakah umpan balik bisa dimengerti, (9) Memisahkan umpan balik yang negatif dan positif, (10) Menyesuaikan umpan balik dengan kepribadian orang tersebut, (11) Menjelaskan dan bukan menghakimi, (12) Konstruktif (13) Menyediakan waktu untuk diskusi dan tindak lanjut
Dalam pelaksanaan supervisi pengajaran, selalu terkait antara supervisi kelas dan supervisi klinis. Atau dapat dikatakan bahwa kedua macam supervisi tersebut dilakukan bersama-sama tanpa batas. Permasalahan yang tidak terselesaikan di supervisi kelas dilanjutkan pada supervisi klinis.
Contoh Pelaksanaan Supervisi Pengajaran di Sekolah
Berdasarkan data hasil evaluasi belajar mata pelajaran, misalnya matematika di sekolah “X”, menunjukkan kurang menggembirakan (hanya men-capai nilai 4 berdasarkan standar 10. Seorang Supervisor (kepala sekolah/pengawas) bermaksud untuk memperbaiki kondisi pembelajaran mata pelajaran matematika tersebut. Kepala sekolah/Peng-awas menyusun program kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut dengan mengikuti langkah pe-nyusunan program supervisi pengajaran (lihat contoh format 1).
Sesuai dengan kesempatan yang dimilikinya, mulailah kepala sekolah/pengawas melaksanakan program tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengunjungi sekolah “X” dan mengadakan observasi kelas dengan membawa instrumen supervisi berupa format-format observasi kelas.
b. Setelah observasi kelas, selanjutnya mengadakan diskusi dengan guru yang bersangkutan untuk menemukan kesepakatan tentang faktor-faktor yang positif (kelebihan) dan negatif (kekurangan) yang dilakukan guru tersebut.
c. Hasil kesepakatan tersebut digunakan untuk penyusunan alternatif kegiatan memperbaiki hal-hal yang negatif dan meningkatkan hal-hal yang positif.
d. Alternatif kegiatan perbaikan/peningkatan terpilih yang telah disepakati oleh kepala sekolah/pengawas dengan guru dijadikan program kegiatan supervisi kelas.
e. Setelah program supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah/pengawas, kemudian disusun laporannya.
f. Laporan yang telah disusun untuk selanjutnya dipakai sebagai laporan pelaksanaan tugas seorang supervisor dan atau digunakan untuk bahan kajian dalam penyusunan kegiatan tindak lanjut.
Dari kasus siklus kegiatan supervisi kelas terdahulu perlu ditindaklanjuti. Ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh supervisor dalam menindaklanjutinya, antara lain:
a. Supervisor memberi bimbingan langsung kepada guru yang bersangkutan untuk memecahkan masalah yang ditemukan pada saat supervisi kelas.
b. Mengadakan bimbingan kelompok dalam kesempatan pertemuan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) atau dalam PKG (Pusat Kegiatan Guru) dan atau sejenisnya.
c. Memberikan kesempatan kepada guru untuk mencobakan alternatif pemecahan yang terpilih.
d. Berkunjung ke kelas lain (pembelajaran guru lain) untuk mengambil pengalaman-pengalaman pembelajaran yang bermanfaat untuk dirinya.
e. Kepala sekolah/pengawas melaksanakan supervisi klinis.
f. Hasil supervisi klinis selanjutnya digunakan untuk menyusun laporan pelaksanaan tugas dan atau menyusun program supervisi klinis berikutnya.
Dari contoh di atas, perlu beberapa teknik supervisi. Ada beberapa contoh teknik supervisi, antara lain:
a. Kelompok Diskusi Terfokus ( Focus Group Discussion ): Diskusi yang dilakukan oleh guru dengan fokus seputar masalah pembelajaran. FGD dapat dilakukan oleh guru dengan berbagai variasi pengalaman dan pengetahuan
b. Penelitian Tindakan Kelas ( Classroom Action Research ): Kegiatan guru untuk melakukan refleksi secara berkelanjutan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan
c. Porto Folio ( Portfolio): Guru mengumpulkan berbagai hasil kerja untuk dijadikan sebagai bahan refleksi dan meminta pertimbangan serta masukan dari orang lain. Dapat dilakukan oleh semua guru
d. Bantuan Sejawat ( Peer Assistance ): Dua atau lebih guru dari sekolah yang sama bersepakat mengadakan pertemuan rutin untuk melakukan perencanaan, pengamatan, umpan balik, pemecahan masalah dan berfikir kreatif guna meningkatkan kualitas pembelajarannya
e. Kerjasama ( Network ): Dua atau lebih guru dari sekolah yang berbeda yang bersepakat mengadakan pertemuan rutin untuk melakukan perencanaan, pengamatan, umpan balik, pemecahan masalah dan berfikir kreatif guna meningkatkan kualitas pembelajarannya.
f. Mentoring: Proses pemberian bantuan oleh seorang mentor kepada satu atau beberapa guru mentee guna meningkatkan kapasitas mereka
Mentor: Dosen, Guru berpengalaman, Kepala sekolah, dll
Mentee: Guru baru, belum berpngalaman, ingin mempelajari pendekatan terbaru, dll
Sumber lain membagi teknik supervisi sebagai berikut: (1) Kunjungan Kelas, (2) Pertemuan Pribadi, (3) Rapat Dewan Guru, (4) Kunjungan antar Kelas, (5) Kunjungan Sekolah, (6) Kunjungan antar Sekolah, (7) Penerbitan Buletin Profesional, (8) Penataran.
sekolah sehat
1. Sekolah yang lingkungannya secara fisik bebas dari hal-hal yang membahayakan kesehatan siswa, dan
2. Warga sekolahnya mempunyai sikap dan prilaku hidup sehat.
Ciri Sekolah Sehat
1. Lingkungan sekolah bebas dari zat kimia yang berbahaya, contoh:
a. debu
b. air keras
c. spirtus
d. bensin
e. asam sulfat
f. zat-zat kimia lain yang membahayakan.
2. Lingkungan sekolah bebas dari material bangunan yang berbahaya, seperti asbes, kaca yang retak, penggunaan karpet yang menutupi kelas secara keseluruhan.
3. Lingkungan di dalam kelas baik.
a. penerangan yang memadai
b. sistem pengaturan suhu udara yang baik
c. ventilasi yang memadai
d. ada upaya pengendalian hama/ penyakit yang membahayakan secara terprogram
e. kegiatan kebersihan dan perawatan kelas/sekolah berkelanjutan dan berkesinambungan:
1) Bebas polusi
2) Bebas rokok
3) Tersedianya Air bersih
4) Sarana Sanitasi yang memadai
4. Sekolah bebas dari makanan dan minuman yang dijual/dijajakan di kantin sekolah yang dianggap sehat padahal mengandung berbagai bahan dan zat kimia yang dapat merusak kesehatan siswa
5. Adanya program, kegiatan, kebijakan dan aturan-aturan untuk menciptakan lingkungan sekolah sehat.
Latar Belakang Pengembangan UKS
Pengembangan program UKS dilatarbelakangi adanya prakarsa Ahli Kesehatan Sekolah di UNESCO, UNICEF, WHO, Bank Dunia, Education International, Pusat Pengembangan Pendidikan dan Kerjasama bagi Perkembangan Anak untuk bersama-sama mengembangkan program kesehatan sekolah yang menyeluruh, bernama FRESH
FRESH
Focusing Resources on Effective School Health atau Memfokuskan Sumberdaya Kesehatan Sekolah yang Efektif.
FRESH merupakan salah satu dari 9 prakarsa PUS (Pendidikan Untuk Semua/Education For All) yang dimotori 9 badan yang diluncurkan pada Forum pendidikan Dunia di Dakar.
Inisiatif FRESH
Dihubungkan dengan tujuan PUS, dengan mengidentifikasi dan menyinggung masalah beragam terkait gangguan kesehatan di sekolah:
a. Kebijakan sekolah yang terkait kesehatan
b. Persediaan air yang aman dan fasilitas sanitasi
c. Pedidikan kesehatan berbasis keahlian
d. Layanan kesehatan dan gizi berbasis sekolah
Mengapa Sekolah Memerlukan UKS
a. Pendidikan dan Kesehatan merupakan dua sisi mata uang.
b. Keduanya tak terpisahkan, merupakan bagian indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI)
c. HDI memperlihatkan sebaik apa mutu sumber daya manusia di suatu negara.
d. Pendidikan dan Kesehatan merupakan dua sisi mata uang.
e. Keduanya tak terpisahkan, merupakan bagian indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI)
f. HDI memperlihatkan sebaik apa mutu sumber daya manusia di suatu negara.
g. UKS memiliki daya ungkit yang tinggi untuk menumbuhkan kesadaran hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan peserta didik.
h. UKS dapat pula dimanfaatkan untuk menjadi perpanjangan tangan bagi program-program :
1) kesehatan Ibu dan Anak (KIA),
2) gizi,
3) pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan,
4) pengobatan, promosi kesehatan, dan
5) berbagai upaya kesehatan lainnya.
Pengertian UKS
UKS adalah upaya terpadu lintas program dan lintas sektoral untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan selanjutnya membentuk perilaku hidup sehat dan bersih bagi peserta didik baik di sekolah maupun di masyarakat
Strategi Pelaksanaan UKS
1. Pelaksanaan UKS bertitik berat pada kegiatan promotif dan preventif.
2. Dukungan upaya kuratif dan rehabilitatif diberikan oleh tenaga kesehatan yang terlibat dalm UKS.
3. UKS dapat didukung dan atau dibina oleh Puskesmas.
Tujuan UKS
Tujuan UKS untuk meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat dan derajat kesehatan peserta didik maupun warga belajar, serta menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
Sasaran UKS
Sasaran langsung UKS adalah peserta didik di sekolah/ satuan pendidikan luar sekolah, guru, pamong belajar, pengelola pendidikan lainnya, pengelola kesehatan, dan masyarakat
Pelaksanaan UKS
Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di Sekolah/ Satuan Pendidikan Luar Sekolah dilaksanakan melalui tiga program pokok yang meliputi:
1. Pendidikan Kesehatan
2. Pelayananan Kesehatan
3. Pembinaan Lingkungan Kehidupan
4. Sekolah Sehat.
Pendukung Pelaksanaan UKS
Untuk mendukung Pelaksanaan Tiga program pokok UKS di Sekolah/Satuan Pendidikan Luar Sekolah diperlukan program pendukung yang meliputi :
1. Ketenagaan
2. Pendanaan
3. Sarana Prasarana
4. Penelitian dan Pengembangan
Pembina UKS
Pembinaan dan Pengembangan UKS dilaksanakan oleh Tim UKS yang terdiri dari:
1. Tim Pembina UKS Pusat
2. Tim Pembina UKS Propinsi
3. Tim Pembina UKS Kabupaten/Kota
4. Tim Pembina UKS Kecamatan
5. Tim Pelaksana UKS di Sekolah
Keanggotaan Tim Pelaksana UKS
1. Keanggotaan Tim Pelaksana UKS terdiri dai unsur Pemerintah Desa/Kelurahan, Kepala Sekolah, Guru, Pamong Belajar, OSIS, Puskesmas, Orang Tua Murid, serta unsur lain yang relevan.
2. Keanggotaan Tim Pelaksana UKS di Sekolah ditetapkan Kepala Sekolah Pembiayaan UKS
Pembiayaan
Biaya pembinaan dan pengembangan UKS terdiri dari atas Anggaran pendapatan dan Belanja Negara masing-masing Departemen, APBD Propinsi, APBD Kabupaten, APBSekolah, serta sumber lain yang sah dan tidak mengikat.
MENCIPTAKAN SEKOLAH YANG AMAN DAN NYAMAN
MENCIPTAKAN SEKOLAH YANG AMAN DAN NYAMAN
1. Pendahuluan
Menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan disiplin sangatlah penting agar siswa dapat mencapai prestasi yang terbaik dan guru dapat menampilkan kinerja yang terbaik.
Sekolah yang aman, nyaman dan disiplin adalah sekolah yang warga sekolahnya bebas dari rasa takut, kondusif untuk belajar dan hubungan antar warga sekolahnya positif.
Sekolah yang aman, nyaman, dan disiplin menyediakan lingkungan fisik (gedung, kelas, halaman) sekolah yang bersih dan aman.
Selain aspek keamanan fisik, kenyamanan atau disebut iklim sekolah, yaitu menyangkut atmosfir, perasaan, lingkungan keseluruhan secara sosial dan emosional sekolah juga harus diciptakan secara positif. Faktor yang mempengaruhi kenyamanan atau iklim sekolah ini adalah hubungan atau keterikatan antar warga sekolah, interaksi antar warga sekolah, rasa saling mempercayai dan saling menghargai antar warga sekolah. Bila keadaan faktor-faktor tersebut tinggi maka semakin positif iklim sekolah tersebut.
Keamanan, kenyamanan dan kedisiplinan suatu sekolah ditentukan oleh nilai-nilai dan sikap warga sekolah, termasuk kepala sekolah, guru, siswa, orang tua, komite sekolah. Pada sekolah yang aman, warga sekolah mempunyai komitmen yang mendalam dalam menciptakan dan menjaga sekolah. Insiden intimidasi, kekerasan diselesaikan dengan cepat, efektif dan pemulihan hubungan antar warga sekolah cepat dipulihkan.
Sekolah yang aman, nyaman dan disiplin akan tercapai bila semua warga sekolah:
- mengembangkan budaya sekolah yang positif dan fokusnya adalah pada pencegahan
- membangun komunitas sekolah dengan cara saling menghargai, adil, menerapkan azas persamaan dan inklusi.
- mengatur dan mengkomunikasikan secara konsisten prilaku yang diharapkan.
- mengajar, memberi contoh dan mendorong prilaku sosial yang bertanggung jawab yang memberi kontribusi terhadap komunitas sekolah
- memecahkan masalah secara damai menghargai perbedaan dan mengedepankan hak asasi manusia.
- bertanggung jawab, dan bermitra dengan masyarakat, untuk memecahkan masalah keamanan yang penting.
- Berkerjasama untuk memahami bersama isu-isu tentang kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah, hukuman fisik, rasisme, ketidakadilan gender, dan berbagai ketakutan lainnya.
- Merespon secara konsisten dan adil terhadap berbagai insiden dan menggunakan intervensi untuk memperbaiki kerusakan fisik maupun psikis dan memperkuat hubungan dan mengembalikan rasa percaya diri.
- berpartisipasi dalam pengembangan kebijakan, prosedur, praktek-praktek yang mempromosikan keamanan sekolah.
- memonitor dan mengevaluasi lingkungan sekolah untuk bukti dan peningkatan keamanan sekolah.
- memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap prestasi sekolah yang pencapaian sekolah yang aman, damai dan teratur sambil menyebutkan hal-hal yang masih perlu untuk ditingkatkan.
2. Mengapa perlu sekolah yang aman, nyaman dan disiplin
Sekolah yang aman, nyaman dan disiplin ini perlu diciptakan, agar anak dapat belajar tidak hanya keterampilan akademik akan tetapi juga melatih siswa untuk mencapai hal-hal non-akademik yang juga sangat penting bagi kehidupan, yaitu:
1. Mencegah kekerasan di sekolah
Melatih siswa mengenai bagaimana cara memecahkan masalah dengan cara tidak melakukan kekerasan merupakan langkah awal untuk membangun masyarakat yang mencintai perdamaian.
- Mengembangkan keterampilan intelegensi emosional siswa. Keterampilan ini sangat penting sekali dimiliki oleh siswa karena sangat mempengaruhi kesuksesan hidup siswa di masa datang. Apabila siswa mempunyai kemampuan akademik yang tinggi tetapi mempunyai intelegensi emosi yang rendah maka hal tersebut tidak akan berguna. Intelegensi emosi atau keterampilan intrapersonal dan interpersonal ini meliputi keterampilan:
- mengembangkan empati
- bekerja sama
- membangun konsensus
- sensitif terhadap perasaan teman
- mengontrol impulsif dan rasa marah
- menenangkan diri
- mengembangkan sikap positif
Intelegensi emosi yang rendah akan menyebabkan:
- putus sekolah
- agresif
- penggunaan obat terlarang
- ketidakteraturan hidup
- kehamilan muda
- kesehatan rendah
- kekerasan dan kriminalitas
- mengalami masalah dalam pekerjaan
- Menguatkan keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan:
- keterampilan mendengarkan dan berkomunikasi
- kemampuan menyesuaikan diri
- berfikir kreatif
- memecahkan masalah
- menetapkan tujuan
- mengelola waktu
- keterampilan mengembangkan kualitas pribadi: mengatur waktu, jujur, bertanggung jawab, bersosialisasi.
3 Ciri-ciri sekolah yang aman, nyaman dan disiplin
a. Sekolah yang aman, nyaman dan disiplin mempunyai karakteristik sebagai berikut. Lingkungan fisik sekolah aman dan nyaman (gedung sekolah, kelas, laboratorium, peralatan, halaman)
b. Warga sekolah saling mendukung dan menghargai.
c. Semua warga menerapkan disiplin yang efektif
d. Sekolah memberikan pembelajaran terbaik.
e. Warga sekolah mengembangkan sikap persamaan, keadilan, dan saling pengertian
f. Perilaku dan sikap yang diharapkan sekolah diajarkan.
g. Strategi pengelolaan prilaku yang menyimpang sifatnya supportive thd siswa
h. Adanya program penyembuhan/terapi
i. Adanya pemodelan/ contoh prilaku dan sikap yang diharapkan dari semua staf sekolah
j. Adanya hubungan yang baik antara sekolah dan orang tua, komite sekolah dan masyarakat.
4. Cara mewujudkan sekolah yang aman, nyaman dan disiplin
4.1. meningkatkan keamanan lingkungan fisik sekolah
Untuk mewujudkan sekolah yang aman perlu dilakukan beberapa langkah. Pertama sekolah harus membentuk komite yang terdiri dari berbagai stakeholders, yaitu masyarakat sekitar sekolah, orang tua, guru, kepala sekolah komite sekolah dan siswa. Dengan melibatkan semua fihak diharapkan komite dapat memperjatam pemahaman dan kesepakatan tentang apa yang perlu dilakukan. Melibatkan keahlian yang terdapat di masyarakat, seperti anggota kepolisian atau ABRI sangatlah penting. Keterlibatan orang tua juga sangat penting agar hal-hal yang menjadi keprihatinan siswa dapat didengar dan diselesaikan. Selain itu stakeholders yang lain perlu dilibatkan agar dapat didengar bagaimana pengalaman mereka sehubungan dengan mewujudkan sekolah yang aman.
Tugas pertama dari komite ini adalah melakukan needs assessment mengenai keadaan sekolah saat ini ditinjau dari segi keamanan. Berdasarkan penilaian awal ini, komite dapat memperoleh pengetahuan mengenai kekuatan dan kelemahan sekolah dalam hal keamanan. Berdasarkan hal ini rencana untuk mewujudkan sekolah yang aman.
Untuk meningkatkan keamanan sekolah, upaya harus difokuskan pada bangunan fisik sekolah, tata letak dan kebijakan dan prosedur yang ada untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari dan menyelesaikan masalah yang mungkin timbul. Bangunan sekolah, kelas, ruang lab, kantor, perpustakaan, lapangan olah raga dan halaman sekolah harus direview. Selain itu, berbagai kebijakan dan prosedur juga akses masuk sekolah harus dinilai kembali. Penggunaan teknologi untuk mencegah orang masuk penyusup masuk dari luar seperti alarm, pagar, teralis harus dipertimbangkan. Pencegahan ini harus distandarkan oleh sekolah dan standar-standar lain untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan harus dibuat seperti membawa benda-benda tajam atau benda-benda lain yang berbahaya. Jalur komunikasi dan prosedur yang harus diikuti bila terjadi kejadian pencurian atau pelanggaran lainnya harus dibuat.
Berikut adalah contoh pertanyaan yang dapat digunakan dalam needs assessment untuk menilai sejauhmana keamanan sekolah anda.
- Apakah lingkungan fisik sekolah aman bagi siswa?
- Apakah ada aturan, kebijakan, prosedur untuk menjaga keamanan sekolah dan apakah semuanya diterapkan? Misalnya adanya buku tamu, akses satu pintu, warga sekolah memakai kartu identifikasi, pengaturan lalu-lintas di depan sekolah, prosedur pengantaran dan penjemputan, dll.
- Apakah ada penyusup/orang yang tidak berkepentingan datang ke sekolah?
- Apakah ada pencurian atau perusakan di sekolah?
- Apakah ada senjata tajam atau benda-benda berbahaya lain yang dibawa ke sekolah?
Jawaban terhadap pertanyaan di atas dan frekuensi masalah yang muncul dapat dijadikan dasar untuk menentukan seberapa aman lingkungan fisik sekolah kita, tindakan yang diperlukan untuk merespon aspek-aspek yang belum memenuhi syarat.
4. 2 Meningkatkan disiplin siswa
Isu yang dihadapi sekolah dalam menciptakan iklim sekolah yang sosial dan emosional baik adalah masalah kedisiplinan siswa. Apakah itu disiplin?
Disiplin adalah pengembangan mekanisme internal diri siswa sehingga siswa dapat mengatur dirinya sendiri (Blandford, 1998).
Kebutuhan siswa menurut Blandford (1998) adalah sebagai berikut.
| No | Kebutuhan dasar | Apa yang diharapkan siswa/ Apa yang harus diberikan sekolah |
| 1 | Rasa aman | Lingkungan yang aman dan nyaman |
| 2 | Rasa memiliki | Perhatian dari guru dan teman 5 P: Penerimaan, Perhatian, Penghargaan, Pengakuan dan Kasih sayang |
| 3 | Harapan | Memastikan kemajuan belajar, membantu meningkatkan prestasi |
| 4 | Kehormatan | Perlakukan siswa sebagai anggota kelas/sekolah yang kompeten dan berharga. Arahkan, tugaskan siswa untuk melakukan tugas yang penting dan jagalah kesepakatan. |
| 5 | Kesenangan | Berikan kegiatan yang menyenangkan. Berikan kesempatan untuk belajar kelompok. Rasa humor |
| 6 | Kompetensi | Hubungkan pengetahuan dengan situasi sehari-hari Berilah kesempatan untuk menunjukkan pengetahuan dan keterampilannya. |
Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka terjadilah berbagai penyimpangan prilaku atau masalah disiplin. Masalah disiplin di kelas atau sekolah antara lain
- Makan di kelas
- Membuat suara gaduh
- Berbicara saat bukan gilirannya
- Lamban
- Kurang tepat waktu
- Mengganggu siswa
- Agresif
- Tidak rapi
- Melakukan ejekan
- Lupa
- Tidak memperhatikan
- Membaca materi lain
- Melakukan hal lain.
Sayangnya disiplin di sekolah sering didefinisikan dengan prosedur yang terfokus pada konsekuensi pemberian hukuman. Perspektif disiplin secara tradisional ini kurang sempurna sebab tidak memperhatikan perkembangan dan tidak mendukung prilaku pro-sosial yang ditunjukkan siswa. Riset menunjukkan bahwa memberikan hukuman saja tidak cukup untuk menekan prilaku menyimpang dan mengembangkan prilaku pro-sosial siswa. Dengan demikian definisi disiplin menurut paradigma baru adalah langkah-langkah atau upaya yang perlu guru, kepala sekolah orang tua dan siswa ikuti untuk mengembangkan keberhasilan prilaku siswa secara akademik maupun sosial. Jadi disiplin dianggap sebagai alat untuk untuk menuju keberhasilan untuk semua guru, dan semua siswa di berbagai situasi.
Sekolah tidak lagi menggunakan pengelolaan penanganan prilaku secara individu dan terpisah-pisah tetapi menggunakan pendekatan sistem disiplin yang menyeluruh yang meliputi penanganan prilaku yang terjadi baik di kelas, halaman, kantin, kamar kecil dan lain-lain.
Sekolah yang sudah berhasil menggunakan pendekatan sistem disiplin yang menyeluruh melakukan langkah-langkah berikut.
- prilaku yang diharapkan didefinisikan dengan jelas. Prilaku yang diharapkan dirumuskan dengan jelas, positif dan tepat. Contoh di kelas: Hormati siswa lain, Bertanggung jawablah, jagalah alat tulis, gunakan semestinya dan lain-lain.
- Prilaku yang diharapkan diajarkan. Prilaku yang diharapkan diajarkan dalam konteks yang sesungguhnya. Misalnya menghormati siswa lain berarti mengacungkan tangan bila ingin bicara di kelas, mendengarkan dan melihat teman yang sedang berbicara.
- Prilaku yang sudah sesuai dengan harapan dihargai secara teratur. Misalnya melalui sistem tiket atau sistem medali dan dipresentasikan pada waktu even sosial atau upcara bendera.
- Prilaku yang menyimpang dikoreksi secara proaktif. Prosedur yang jelas untuk memberitahu bahwa prilaku tersebut tidak diharapkan dan langkah-langkah pencegehan ke depan.
- Pendekatan sistem disiplin yang menyeluruh ini dibuat bersama oleh tim diuji coba, disosialisasikan dan dimonitor keberhasilannya, dan dimodifikasi secara berkala.
- Pendekatan sistem disiplin yang menyeluruh harus didukung secara aktif oleh semua warga sekolah.
Berikut ini adalah ringkasan bagaimana mengelola penyimpangan prilaku untuk menegakkan kedisiplinan.
Mencegah Prilaku Menyimpang
A. Meningkatkan Kualitas Sekolah.
- Sesuaikan pembelajaran dengan siswa (contoh mengakomodasi berbagai motivasi siswa yang berbeda dan perkembangan siswa yang berbeda)
- Berikan status tertentu bagi siswa yang kurang populer (peran khusus sebagai asisten atau totur sebaya).
- Identifikasi dan remedi kekurangan secara awal.
B. Tindak lanjuti semua penyimpangan prilaku dan penyebabnya.
- Identifikasi motivasi siswa yang melakukan prilaku menyimpang.
- Untuk prilaku menyimpang yang tidak disengaja, berilah penguatan cara mengelola/ menguasai diri (contoh keterampilan sosial, cara memecahkan masalah).
- Bila prilaku menyimpang ini,
Cara mengelola berbagai penyimpangan prilaku/kedisiplinan
- Tindakan Pencegahan
A.
Intervensi
Bila terjadi prilaku menyimpang maka prilaku menyimpang itu harus dikoreksi dengan cara sekecil mungkin intervensi. Tujuan utama adalah menangani prilaku menyimpang seefektif mungkin untuk menghindari gangguan sehingga pembelajaran dapat berlangsung lancar. (Slavin, 2000)
Strategi menangani disiplin
Langkah 1: Membantu situasi
- hilangkan objek yang mengganggu
- berikan bantuan tentang kegiatan rutinitas sekolah.
- Beri penguatan terhadap prilaku yang sesuai
- Dukunglah minat siswa.
- Berikan petunjuk
- Bantu siswa mengatasi gangguan
- Arahkan prilaku siswa
- Ubahlah pembelajaran
- Gunakan hukuman non-fisik
- Ubahlah suasana kelas.
Langkah 2: Respon lunak
| No | Non Verbal | Verbal |
| 1 | Abaikan prilaku | Panggil siswa ketika pembelajaran berlangsung. |
| 2 | Gunakan tanda non-verbal | Gunakan humor |
| 3 | Berdiri dekat siswa | Gunakan kalimat positif |
| 4 | Peganglah siswa tersebut | Ingatkan siswa tentang kesepakatan |
| 5 | | Beri siswa pilihan kegiatan |
| | | Beritahukan prilaku salah yang telah diperbuat. |
Langkah 3: Respons menengah
- Hilangkan hak siswa
- Ubahlah tempat duduk
- Mintalah siswa untuk merefleksi masalah yang dihadapi.
- Berilah siswa istirahat
- Mintalah siswa untuk pulang lebih lambat
- Kontak oranng tuanya
- Mintalah siswa untuk menemui kepala sekolah.
Disiplin positif
- Perhatikan siswa dengan menyeluruh, kontak mata dan sapaan.
- Tanya siswa apa yang paling mereka sukai di sekolah dan bagaimana kelas yang diinginkan.
- Galilah prilaku yang menyimpang dan hal-hal yang menyebabkannya.
- Carilah kesepakatan di kelas.
- Galilah kesepakatan bagaimana guru harus mengintervensi bila siswa melanggar kesepakatan.
(Charles, 2002: 106-107)
4. 3. Menghilangkan hukuman fisik dan merendahkan oleh guru terhadap siswa
Banyak siswa di berbagai negara, termasuk di Indonesia, menderita karena dihukum secara fisik dan dihukum secara direndahkan oleh guru di sekolah.
Lebih dari 20 negara di dunia ini telah menerbitkan undang-undang atau peraturan yang melarang hukuman fisik kepada siswa di sekolah. Gerakan mendunia untuk mengubah budaya menghukum secara fisik ini telah mencapai momentum yang baik. Hal ini disebabkan oleh pemahaman bahwa anak mempunyai hak asasi dan juga berdasarkan bukti-bukti medis dan psikologis tentang efek negatif akibat dari hukuman fisik dan bukti ketidakefektifan hukuman fisik sebagai metode pendisiplinan.
Hukuman fisik ini melanggar hak asasi anak dalam hal integritas fisik dan kehormatannya sebagai manuasia seperti dicanangkan dalam Konvensi PBB tentang hak-hak anak. Dengan demikian, semua negara diharapkan dapat memberikan jaminan terlaksananya hak anak yaitu hidup bebas dari kekerasan termasuk hukuman fisik dan psikhologis di sekolah maupun di rumah.
Definisi Hukuman Fisik
Hukuman fisik adalah hukuman yang melibatkan pemukulan dengan tangan atau objek lain seperti tongkat, penggaris, ikat pinggang, cambuk, sepatu; menendang, melempar, mencubit, menjambak, menyuruh siswa untuk berdiri pada posisi yang tidak menyenangkan, atau menyuruh siswa untuk melakukan kegiatan fisik yang berlebihan, menakuti siswa.
Selain itu hukuman fisik terdapat pula hukuman yang merendahkan seperti menghina mengolok, berkata kasar, mengisolasi, dan membiarkan siswa. Penting untuk diketahui bahwa tidak ada batasan yang jelas antara hukuman fisik dengan hukuman yang merendahkan. Siswa sering mempersepsikan bahwa hukuman fisik juga merendahkan mereka.
Mengapa hukuman fisik itu dilarang?
Seperti telah diketahui bahwa manusia memiliki hak asasi. Berbagai standar perilaku telah ditetapkan untuk menghormati hak asasi manusia ini. Pemukulan dan penghinaan secara disengaja melanggar hak asasi manusia. Anak-anak juga manusia mereka memiliki hak asasi yang sama seperti orang dewasa. Anak-anak adalah manusia hanya mereka masih kecil dan lebih rentan daripada orang dewasa.
Menurut UNESCO hukuman phisik dalam bentuk apapun di sekolah ini dilarang. Memukul anak ini melanggar hak dasar anak agar anak tersebut dihargai integritas fisiknya dan kehormatannya, seperti dicanangkan dalam Deklarasi hak asasi manusia.
Penerapan hukuman fisik menyebabkan kesehatan mental terganggu, termasuk diantaranya depresi, tidak bahagia, cemas, perasaan hampa dalam diri siswa. Hukuman fisik juga
Selain bertentangan dengan hak asasi manusia, hukuman fisik dan hukuman merendahkan juga kadang-kadang masih dilegalisasi dan masih diterima oleh mayarakat tertentu. Status anak yang masih rendah di mata masyarakat dan siswa tidak mempunyai kekuatan menyebabkan penerapan larangan hukuman fisik dan hukuman yang merendahkan di sekolah belum sepenuhnya dapat direalisasikan.
Selain itu berdasarkan bukti-bukti medis dan psikologis, hukuman fisik dan hukuman yang merendahkan menyebabkan anak beresiko mengalami fisik yang terganggu, kesehatan mental yang terganggu, hubungan interpersonal yang tidak sehat, internalisasi nilai-nilai moral yang lemah, prilaku anti sosial, kemampuan beradaptasi yang terganggu.
Beberapa alasan mengapa guru sering menggunakan hukuman fisik dan hukuman merendahkan
- hukuman fisik merupakan bagian yang penting dalam perkembangan dan pendidikan siswa. Siswa belajar dari dari pukulan itu untuk menghargai guru atau orang tua, belajar untuk membedakan mana yang baik dan mana yang salah, belajar mematuhi aturan dan belajar bekerja keras. Tanpa hukuman fisik siswa tidak akan belajar disiplin atau akan menjadi manja.
Hasil riset menunjukkan bahwa hukuman fisik jarang memotivasi siswa untuk berlaku berbeda karena hukuman fisik tidak memberikan pemahaman kepada siswa bagaimana siswa harus berlaku. Faktanya guru seringkali harus mengulangi memberi hukuman fisik untuk perilaku yang sama dan kepada anak yang sama. Hal ini membuktikan bahwa hukuman fisik ini tidak efektif. Hukuman fisik menimbulkan rasa takut pada anak tidak menimbulkan rasa hormat dari anak kepada guru atau orang tua. Apakah benar bahwa kita ingin mengajar siswa untuk menghormati orang yang menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah?
- Saya dipukuli ketika masih menjadi siswa oleh guru dan orang tua. Sebaliknya saya tidak akan menjadi orang seperti sekarang kalau tidak karena guru dan orang tua saya.
Guru /orang tua biasanya memukul siswa karena ketika mereka masih menjadi siswa merekapun dipukul. Siswa belajar dan meniru dari guru dan orang tua. Namun demikian kita akan sia-sia menyalahkan generasi terdahulu karena mereka bertindak berdasarkan norma atau kebiasaan yang berlaku saat itu. Akan tetapi sikap sosial ini berubah seiring waktu. Ada banyak orang yang sukses yang tidak dipukul pada waktu menjadi siswa, akan tetapi lebih banyak orang dewasa yang tidak dapat mengembangkan potensi hidupnya karena dipukul sewaktu menjadi siswa.
- Ada perbedaan antara pemukulan yang kejam dan hukuman fisik yang dilakukan guru atau orang tua. Hukuman fisik ini tidak membahayakan, hanya menyebabkan sakit sedikit dan tidak bisa dikatakan kekerasan. Kenapa harus dihilangkan?
Semua orang termasuk anak-anak mempunyai hak asasi untuk dihargai kehormatan dan integritasnya. Dalam banyak kasus, hukuman fisik kecil dapat menyebabkan luka yang tidak dikehendaki. Memukul siswa/anak tetap berbahaya karena siswa adalah anak-anak dan mereka masih sangat rapuh.
Kerusakan gendang telinga, kerusakan otak, luka atau kematian karena jatuh merupakan konsekuensi atau akibat dari atau bermula dari hukuman fisik kecil. Berdasarkan hasil-hasil riset, akibat negatif dari hukuman fisik adalah sebagai berikut.
a. Eskalasi: Hukuman bermula dari hukuman ringan, ketika siswa beranjak lebih besar hukuman ringan tidak berhasil kemudian meningkat, guru atau orangtua yang dituduh menganiaya siswa atau putranya mengatakan bahwa penganiayaan bermula dari hukuman fisik biasa.
- Memotivasi kekerasan: setiap hukuman fisik memberi pesan bahwa kekerasan merupakan jawaban terhadap konflik atau prilaku yang tidak diinginkan. Agresi melahirkan agresi. Siswa yang mendapat hukuman fisik akan menjadi agresif terhadap saudaranya, mengancam atau menyakiti siswa lain dan berprilaku anti sosial ketika mereka dewasa. Jadi menghilangkan hukuman fisik merupakan langkah yang penting untuk mengurangi kekerasan di masyarakat.
- Kerusakan psikis: hukuman fisik dapat membahayakan emosi anak. Riset menunjukkan bahwa siswa akan mendapat pesan yang terbalik antara kasih sayang dengan rasa sakit, marah dengan harus selalu patuh.
Agar sekolah mengubah dari menekankan pamberian hukuman fisik dan pengontrolan prilaku, maka sekarang terdapat advokasi untuk memfokuskan pada pendidikan intelegensi emosi dan pendidikan karakter
Alternatif hukuman: Hukuman Positif/Non-Fisik
Siswa memang perlu belajar untuk disiplin terutama disiplin diri. Akan tetapi untuk mengajarkan disiplin tersebut bukan dengan cara memberikan hukuman fisik dan hukuman merendahkan karena hukuman ini terbukti tidak efektif untuk menegakkan disiplin. Sebaiknya guru memberitahu dan menjelaskan kepada siswa kesalahan apa yang telah mereka lakukan bukan dengan cara memberi hukuman fisik atau hukuman merendahkan.
Guru-guru perlu diberi keterampilan untuk menggunakan metode pendisiplinan yang tidak berupa hukuman fisik atau hukuman yang merendahkan anak. Berikut ini adalah beberapa petunjuk dan hal-hal yang dapat dilakukan oleh Kepala sekolah/guru dalam hal hukuman positif/non-fisik.
- Beri penghargaan/pujian bila siswa patuh atau dapat melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini akan memotivasi siswa lain untuk mengikuti pprilaku tersebut and memotivasi mereka untuk berdisiplin diri. Pujian ini tidak perlu modal apapun, bahkan penghargaan tidak harus menghabiskan uang bayak. Penghargaan ini dapat berupa pemberian kegiatan yang menyenangkan siswa.
- Berilah model/contoh prilaku yang diinginkan. Bila kita tidak ingin siswa kita berbicara bahasa yang tidak baik, maka kitapun tidak boleh berbicara yang tidak baik.
- Realistiklah terhadap harapan kita pada siswa-siswa menurut tingkatan usianya.
- Motivasilah siswa-siswa untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, karena mereka seringkali dapat menemukan kompromi yang dapat diterima kedua belah pihak.
- Jangan gunakan ancaman atau berteriak kepada siswa. Lebih baik mereka diberitahu kesalahannya dan alasannya daripada ditakuti-takuti atau dilecehkan
- Gunakanlah kata-kata yang baik untuk siswa-siswa anda. Bila anda menggunakan kata yang melecehkan atau menghina ini akan menjadikan siswa tersebut rendah diri.
- Negosiasi dan berkompromilah, terutama bila anda harus menemukakan pendapat anda. Kajilah apa yang akan anda katakan itu penting atau tidak? Apakah hal yang akan anda katakan ini mempengaruhi keselamatan siswa? Apakah ada yang terluka dengan apa yang akan saya katakan?
- Gunakan metode bimbingan dan penyuluhan terutama dengan siswa kelas tinggi. Bila diperlukan undanglah orangtua/keluarga yang dihormatinya. Diskusikan dengan orangtua/keluarga prilaku negatif siswa dan prilaku yang diharapkan dari siswa tersebut.
- Siswa belajar dengan cara melakukan, dengan demikian berilah tugas yang tidak mengandung kekerasan, tugas sebaiknya berhubungan dengan kesalahan siswa. Misalnya siswa diminta membetulkan, membersihkan sesuatu yang pecah, dengan demikian siswa tidak akan mengurangi perbuatannya.
4.4 Menghilangkan kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah di sekolah
Definisi
Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah (bullying) adalah suatu situasi dimana seorang siswa atau lebih secara terus menerus melakukan tindakan yang menyebabkan siswa lain menderita. Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini dapat berbentuk tiga hal yaitu:
- secara fisik, memukul, menendang, mengambil milik orang lain
- Secara verbal: mengolok-olok nama siswa lain, menghina, mengucapkan kata-kata yang menyinggung.
- secara tidak langsung: menyebarkan cerita bohong, mengucilkan, menjadikan siswa tertentu sebagai target humor yang menyakitkan, mengirim pesan pendek atau surat yang keji.
Mengolok-olok nama merupakan hal yang paling umum karena ciri-ciri fisik siswa, suku, warna kulit, dan lain-lain.
Identifikasi Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah
Mengidentifikasi Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini tidaklah mudah, hal-hal berikut harus dipahami untuk menentukan apakah suatu tindakan dikatakan mengancam atau menyakiti siswa lain.
- Bila siswa yang diancam atau disakiti tidak mempunyai posisi untuk menghentikan proses menyakiti atau mengancam tersebut.
- Kekerasan antar siswa ini tidak selalu terlihat jelas oleh guru atau siswa lain.
- Efeknya yang menentukan bukan tindakannya.
- Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini bukan tidak tunggal tetapi dilakukan terus-menerus secara berkesinambungan.
- Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah bertujuan untuk menyakiti atau membuat kesal siswa lain.
- Kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah bertujuan tidak hanya menyakiti secara fisik tetapi juga secara psikis dan sosial.
Agar kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini tidak terjadi maka perlu dibuat aturan sekolah untuk melindungi siswa korban kekerasan. Tindakan pencegahan dan strategi mengelola kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini juga perlu dibuat untuk melindungi korban agar tindakan kekerasan tidak berlangsusng terus-menerus.
Sealin itu sekolah harus terbuka mengenai isu kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah ini. Semakin sekolah terbuka mengenai isu kekerasan ini, semakin siap sekolah tersebut menangani kekerasan dan semakin baik mengelolanya. Sekolah harus mempunyai catatan yang akurat tentang kejadian kekerasan yang terjadi di sekolah dan bagaimana cara menanganinya untuk keperluan monitoring dan untuk melindungi sekolah dari tuntutan hukum.
Sekolah sebaiknya mempunyai strategi anti kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah yang dapat berbentuk 4 cara:
- Pencegahan
Pencegahan preventif diintegrasikan dalam semua kurikulum mata pelajaran, termasuk hubungan, tanggung jawab, dan akibat negatif dari kekerasan. Dengan demikian mata pelajaran dapat menyangkut aspek keterampilan sosial dan emosional yang sangat penting.
2 Dukungan antar teman
Memberikan dukungan yang aktif kepada teman sangatlah penting. Program pertemanan ini dapat dipersiapkan oleh sekolah secara formal ataupun informal agar siswa-siswa dapat saling mendukung secara akatif.
- Prosedur yang jelas
Prosedur untuk menyampaikan keluhan tindakan kekerasan antar teman harus tersedia, misalnya kepada unit bimbingan dan konseling, atau konseling antar teman. Demikian pula prosedur untuk mnecatat dan memonitor kekerasan harus jelas.
- Promosi
Promosi tentang anti kekerasan terhadap siswa yang lebih lemah dan strateginya diberikan kepada seluruh warga sekolah: siswa, orang tua, komite sekolah, masyarakat. Bentuknya dapat berupa leaflet, poster, laporan berkala dan bentuk penerbitan lain yang berisi kebijakan anti kekerasan sekolah yang sangat membantu menyampaikan informasi ini.
REFERENSI:
school safety: children.state.mn.us/mde/groups/safehealthy/documents/report/008931.pdf
checklist safe, secure, and orderly school: www.ocdsb.ca/General_Info/Safe_and_caring/downloads/School%20Climate%20Checklist.pdf -
smhp.psych.ucla.eduqfbehaviorprob_qtbehavior_problems_what's_a_school_to_do.pdf
