Sabtu, 03 April 2010

Supervisi kelas

1. Pengertian Dan Sasaran Supervisi Kelas
Dalam organisasi pendidikan (dalam hal ini sistem sekolah), istilah supervisi sudah lama dikenal dan dibicarakan. Istilah “supervisi kelas” mengacu kepada misi utama pembelajaran, yaitu kegiatan yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan prestasi akademik. Dengan kata lain, supervisi kelas adalah kegiatan yang berurusan dengan perbaikan dan peningkatan proses dan hasil pembelajaran di sekolah.
Dalam konteks profesi pendidikan, khususnya profesi mengajar, mutu pembelajaran merupakan refleksi dari kemampuan profesional guru. Karena itu, supervisi kelas berkepentingan dengan upaya peningkatan kemampuan profesional guru yang berdampak terhadap peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. Dengan demikian fungsi supervisi kelas adalah salah satu mekanisme untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam upaya mewujudkan proses belajar peserta didik yang lebih baik melalui cara mengajar yang lebih baik pula. Dalam analisis terakhir, keefektifan supervisi kelas indikatornya adalah peningkatan hasil belajar peserta didik.

Sasaran supervisi kelas adalah:
a. Proses pembelajaran peserta didik.
b. Menjadikan kepala sekolah dan guru sebagai professional learners.
c. Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk memiliki kemampuan manajemen sumber daya pendidikan

a. Proses pembelajaran peserta didik.
Proses pembelajaran peserta didik mempunyai tujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Proses pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: guru, peserta didik, kurikulum, alat dan buku-buku pelajaran, serta kondisi lingkungan sosial dan fisik sekolah. Dalam konteks ini, guru merupakan faktor yang paling dominan. Karena itu, supervisi kelas menaruh perhatian utama pada upaya-upaya yang bersifat memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk berkembang secara profesional, sehingga mereka lebih mampu dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu melaksanakan dan meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang direfleksikan dalam kemampuan-kemampuan, antara lain: (1) Kemampuan merencanakan kegiatan pembelajaran; (2) Kemampuan melaksanakan kegiatan pembelajaran; (3) Kemampuan menilai proses dan hasil pembelajaran;(4) Kemampuan memanfaatkan hasil penilaian bagi peningkatan layanan pembelajaran; (5) Kemampuan memberikan umpan balik secara tepat, teratur, dan terus-menerus kepada peserta didik; (6) Kemampuan melayani peserta didik yang mengalami kesulitan belajar; (7) Kemampuan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan; (8) Kemampuan mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu dan media pembelajaran; (9) Kemampuan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia; (10) Kemampuan mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode, dan teknik) yang tepat; dan (11) Kemampuan melakukan penelitian praktis bagi perbaikan pembelajaran.
b. Menjadikan kepala sekolah dan guru sebagai professional learners.
Sasaran lain dari supervisi pendidikan adalah menjadikan kepala sekolah dan guru sebagai professional learners, yaitu para profesional yang menciptakan budaya belajar dan mereka mau belajar terus menyempurnakan pekerjaannya. Budaya ini memungkinkan terjadinya peluang inovasi dari bawah (bottom-up innovation) dalam proses pembelajaran
Pemberdayaan akuntabilitas profesional guru hanya akan berkembang apabila didukung oleh penciptaan budaya sekolah sebagai organisasi belajar. Istilah organisasi belajar dimaksudkan sebagai suatu organisasi di mana para anggotanya menunjukkan kepekaan terhadap masalah-masalah yang dihadapi dan berupaya untuk mengatasi masalah tersebut tanpa desakan atau perintah dari pihak luar. Kepala sekolah dan guru tidak hanya bekerja menunaikan tugas dan kewajiban yang dibebankan kepadanya, melainkan pula memiliki sikap untuk selalu meningkatkan mutu pekerjaannya, dan oleh karenanya mereka terus belajar untuk mempelajari cara-cara yang paling baik. Mereka dapat dikelompokkan sebagai “professional learners”.

c. Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk memiliki kemampuan manajemen sumber daya pendidikan
Kemampuan manajemen sumber daya pendidikan meliputi kemampuan dalam pengadaan, penggunaan/pemanfaatan, dan merawat/memelihara. Hal ini disebabkan karena aspek yang akan mendukung pemberdayaan akuntabilitas profesional guru adalah tersedianya sumber daya pendidikan untuk mendukung produktivitas sekolah, khususnya mendukung proses pembelajaran yang bermutu. Alat peraga, alat pelajaran, fasilitas laboratorium, perpustakaan, dan sejenisnya sangat diperlukan bagi terwujudnya proses pembelajaran yang bermutu. Sumber daya pendidikan seperti itu memungkinkan peserta didik terlibat secara aktif melalui bervariasinya kegiatan pembelajaran yang lebih kaya.

2. Prinsip-Prinsip Supervisi Kelas
Supervisi kelas dilaksanakan atas dasar keyakinan sebagai berikut:
a. Pengawasan terhadap penyelenggaraan proses pembelajaran (PBM) hendaknya menaruh perhatian yang utama pada peningkatan kemampuan profesional gurunya, yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran;
b. Pembinaan yang tepat dan terus-menerus yang diberikan kepada guru-guru berkontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran;
c. Peningkatan mutu pendidikan melalui pembinaan profesional guru didasarkan atas keyakinan bahwa mutu pembelajaran dapat diperbaiki dengan cara paling baik di tingkat sekolah/kelas melalui pembinaan langsung dari orang-orang yang bekerjasama dengan guru-guru untuk memperbaiki mutu pembelajaran;
d. Supervisi yang efektif dapat menciptakan kondisi yang layak bagi pertumbuhan profesional guru-guru. Kondisi ini ditumbuhkan melalui kepemimpinan partisipatif, di mana guru-guru merasa dihargai dan diperlukan. Dalam situasi seperti ini akan lahir saling kepercayaan antara para pembina (pengawas, kepala sekolah) dengan guru-guru, antara guru dengan guru, dan di antara pembina sendiri. Guru-guru akan merasa bebas membicarakan pekerjaannya dengan pembina jika ada keyakinan bahwa pembina akan menghargai pikiran dan pendapatnya;
e. Supervisi yang efektif dapat melahirkan wadah kerjasama yang dapat mempertemukan kebutuhan profesional guru-guru. Melalui wadah ini, guru-guru memiliki kesempatan untuk berpikir dan bekerja sebagai suatu kelompok dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari di bawah bimbingan pembina dalam upaya memperbaiki proses pembelajaran;
f. Supervisi yang efektif dapat membantu guru-guru memperoleh arah diri, memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi sehari-hari, belajar memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari dengan imajinatif dan kreatif. Dalam suasana seperti itu, pemikiran dan alternatif pemecahan masalah, maupun gagasan inovatif akan muncul dari bawah dalam upaya menyempurnakan proses pembelajaran tanpa menunggu instruksi atau petunjuk dari atas. Dengan demikian, supervisi yang efektif dapat merangsang kreativitas guru untuk memunculkan gagasan perubahan dan pembaruan yang ditujukan untuk memperbaiki proses pembelajaran; dan
g. Supervisi yang efektif hendaknya mampu membangun kondisi yang memungkinkan guru-guru dapat menunaikan pekerjaanya secara profesional, ketersediaan sumber daya pendidikan yang diperlukan memberi peluang kepada guru untuk mengembangkan proses pembelajaran yang lebih baik.
Kegiatan supervisi kelas diwujudkan oleh para supervisor dalam bentuk sikap dan tindakan yang dilakukan dalam interaksi antara supervisor dengan guru-guru. Kegiatan tersebut selain memperhatikan konsep/teori di atas sebagai landasan dan keyakinan dalam melaksanakan tugas dan fungsionalnya, supervisor juga perlu memperhatikan dan berpedoman pada prinsip-prinsip supervisi, yaitu ;
a. Supervisi hendaknya dimulai dari hal-hal yang positif;
b. Hubungan antara para pengawas dengan guru-guru hendaknya didasarkan atas hubungan kerja secara profesional;
c. Pembinaan profesional hendaknya didasarkan pada pandangan objektif;
d. Pembinaan profesional hendaknya didasarkan atas hubungan manusiawi yang sehat;
e. Pembinaan profesional hendaknya mendorong pengembangan inisitif dan kreativitas guru-guru;
f. Pembinaan profesional harus dilaksanakan terus-menerus dan berkesinambungan;
g. Pembinaan profesional hendaknya dilakukan sesuai dengan kebutuhan masing-masing guru; dan
h. Pembinaan profesional hendaknya dilaksanakan atas dasar rasa kekeluargaan, kebersamaan, keterbukaan, dan keteladanan.
3. PERANAN DAN PERILAKU SUPERVISOR
a. Peranan Supervisor
Pembinaan profesional dilakukan karena satu alasan, yaitu memberdayakan akuntabilitas profesional guru yang pada gilirannya meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Untuk maksud tersebut, para supervisor hendaknya melakukan peranan sebagai berikut:
1) Peneliti. Seorang supervisor dituntut untuk mengenal dan memahami masalah-masalah pengajaran. Karena itu ia perlu mengidentifikasi masalah-masalah pengajaran dan mempelajari faktor-faktor atau sebab-sebab yang mempengaruhinya.
2) Konsultan atau Penasihat. Seorang supervisor hendaknya dapat mem-bantu guru untuk melakukan cara-cara yang lebih baik dalam mengelola proses pembelajaran. Oleh sebab itu, para pengawas hendaknya selalu mengikuti perkembangan masalah-masalah dan gagasan-gagasan pendidikan dan pengajaran mutakhir. Ia dituntut untuk banyak membaca dan menghadiri pertemuan-pertemuan profesional, sehingga ia memiliki kesempatan untuk saling tukar informasi tentang masalah-masalah pendidikan dan pengajaran yang relevan, yaitu gagasan-gagasan baru mengenai teori dan praktik pengajaran.

3) Fasilitator. Seorang supervisor harus mengusahakan agar sumber-sumber profesional, baik materi seperti buku dan alat pelajaran maupun sumber manusia yaitu narasumber mudah diperoleh guru-guru. Dengan perkataan lain, hendaknya supervisor dapat menyediakan kemudahan-kemudahan bagi guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
4) Motivator. Seorang supervisor hendaknya membangkitkan dan memelihara kegairahan kerja guru untuk mencapai prestasi kerja yang semakin baik. Guru-guru didorong untuk mempraktikkan gagasan-gagasan baru yang dianggap baik bagi penyempurnaan proses pembelajaran, bekerjasama dengan guru (individu atau kelompok) untuk mewujudkan perubahan yang dikehendaki, merangsang lahirnya ide baru, dan menyediakan rangsangan yang memungkinkan usaha-usaha pembaruan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
5) Pelopor Pembaharuan. Para supervisor jangan merasa puas dengan cara-cara dan hasil yang sudah dicapai. Pengawas harus memiliki prakarsa untuk melakukan perbaikan, agar guru pun melakukan hal serupa. Ia tidak boleh membiarkan guru mengalami kejenuhan dalam pekerjaannya, karena mengajar adalah pekerjaan dinamis. Guru-guru perlu dibantu untuk menguasai kecakapan baru, untuk itu para supervisor harus menyusun program latihan dan pengembangan dengan cara merencanakan pertemuan atau pena-taran sesuai dengan kebutuhan setempat. Supervisi sebagai pembinaan profesional guru diwujudkan dalam perilaku para supervisor sebagai pembina.
b. Perilaku Supervisor
Perilaku supervisor tergantung pada pemahamannya mengenai tujuan pembinaan profesional. Jika dianalisis, tingkat kualitas perilaku pembinaan berwujud: (1) memperhatikan, (2) mengerti atau memahami, (3) membantu dan membimbing, (4) memupuk evaluasi diri bagi perbaikan dan pengem-bangan, (5) memupuk kepercayaan diri, dan (6) memupuk, mendorong bagi pengembangan inisiatif, kreativitas, dan pertumbuhan diri secara profesional.
Supervisor diharapkan memiliki perilaku pembinaan profesionalnya pada tingkat tertinggi. Secara rinci ciri supervisor yang baik adalah (1) Baik hati, (2)Murah hati, (3) Mendengarkan Anda, (4) Menyemangati Anda, (5) Mempercayai Anda, (6) Menjaga kepercayaan diri, (7) Memberi kesempatan untuk memahami, (8) Membantu Anda, (9) Mendengar dan memperhatikan pendapat Anda., (10) Menyampaikan hasil kerja Anda, (11) Tidak gampang menyerah, (12) Membuat Anda merasa pintar, (13) Mengganggap mitra, (14) Menyatakan kebenaran, (15) Memaafkan

C.

PELAKSANAAN SUPERVISI PENGAJARAN
Dalam melaksanakan proses supervisi pengajaran, terdapat empat tahap kegiatan yang memerlukan kriteria serta teknik tertentu, agar dapat berjalan lancar, yaitu: (1) Tahap Perencanaan, (2) Tahap Pelaksanaan, (3) Tahap Pelaporan dan (4) Tahap Tindak Lanjut.
1. Tahap Perencanaan
Pada tahap perencanaan supervisor harus menyiapkan dan menentukan metode serta pendekatan yang akan digunakan dalam kegiatan supervisi.
Beberapa kriteria dan teknik perencanaan supervisi antara lain: (1) mengadakan pertemuan dengan guru dalam suasana yang menyenangkan, tidak “mengancam” dan menakuti; (2) menentukan bersama segi apa yang harus diamati selama pelajaran berlangsung dan bagaimana mencatat hasil observasi; (3) jika ada, supervisor menanyakan pengalaman penampilan masa lalu untuk melihat segi-segi atau sub-keterampilan yang akan diperbaiki atau disempurnakan; dan (4) berdasarkan pertemuan awal dengan guru tersebut, maka supervisor menyiapkan dan menyusun format program supervisi yang digunakan untuk mengarahkan kegiatan supervisi yang akan dilaksanakan.
Program supervisi yang baik disusun secara realistis yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan setempat di sekolah itu atau di wilayah itu. Untuk menyusun program seperti itu, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi Masalah Proses Pembelajaran
Mengidentifikasi masalah-masalah proses pembelajaran yang dihadapi guru sehari-hari yang ada di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melakukan observasi kelas, menyelenggarakan rapat sekolah, wawancara informal atau pertemuan pribadi dengan guru, menghadiri pertemuan MGBS, SPKG/PKG, analisis laporan daya serap, dan cara lain yang dapat dilakukan sesuai dengan kreativitas para pembina sendiri.

b. Menganalisis Masalah
Masalah-masalah profesional yang berhasil diidentifikasi, selanjutnya perlu dikaji lebih lanjut dengan maksud untuk memahami esensi masalah yang sesungguhnya dan faktor-faktor penyebabnya, selanjutnya masalah-masalah tersebut diklasifikasi dengan maksud untuk menemukan masalah yang mana yang dihadapi oleh kebanyakan guru di sekolah atau di wilayah itu.
c. Merumuskan cara-cara pemecahan masalah
Dalam proses pengkajian terhadap berbagai cara pemecahan yang mungkin dilakukan, setiap alternatif pemecahan dipelajari kemungkinan keterlaksanaannnya dengan cara mempertimbangkan faktor-faktor peluang yang dimiliki, seperti fasilitas dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi. Alternatif pemecahan masalah yang terbaik adalah alternatif yang paling mungkin dilakukan, dalam arti lebih banyak faktor-faktor pendukungnya dibandingkan dengan kendala yang dihadapi. Di samping itu, alternatif pemecahan yang terbaik memiliki nilai tambah yang paling besar bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa.


d. Implementasi Pemecahan masalah
Saat yang paling kritis dalam setiap upaya perbaikan pengajaran adalah apakah guru-guru mempraktikkan gagasan yang telah dipahaminya di kelas. Hasil pemecahan masalah bukan sekedar untuk dipahami, akan tetapi yang lebih penting adalah pelaksanaannya di kelas. Hal ini sangat penting, karena upaya perbaikan atau pembaharuan pengajaran apapun tidak akan mempunyai dampak terhadap peningkatan proses dan hasil belajar mengajar apabila tidak dipraktikkan di kelas.
e. Evaluasi dan Tindak lanjut
Evaluasi dalam supervisi adalah proses pengumpulan informasi yang diperlukan untuk selanjutnya digunakan bagi upaya perbaikan pengajaran lebih lanjut. Bahan-bahan yang diperoleh tersebut selanjutnya dimanfaatkan untuk menyusun kegiatan tindak lanjut yang sekaligus menjadi masukan penyusunan program pembinaan selanjutnya.
Sebagai gambaran, berikut disajikan contoh format program supervisi pengajaran yang dilakukan supervisor (kepala sekolah dan atau pengawas) terhadap guru.

Contoh 1
FORMAT PROGRAM SUPERVISI PENGAJARAN
SUPERVISOR*) TERHADAP GURU

Nama Guru : …………………………
NAMA SEKOLAH : …………………………
Alamat : …………………………
Kelas/Semester : …………………………

No Tujuan Sasaran Jenis Kegiatan Instrumen Waktu

















Jakarta, ……………………
Supervisor *)




Contoh 2
CONTOH PROGRAM KERJA PEMBINAAN :
SUPERVISI & PENGAWASAN BIDANG AKADEMIK DI SD

No Kegiatan Bulan Penanggung
jawab
7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6
1. Perencanaan
Penentuan tujuan supervisi akademik
Analisis kegiatan supervisi dan pengawasan
Analisis waktu, tenaga, biaya unrtuk kegiatan supervisi
dan pengawasan
Analisis permasalahan yang muncul
Pembuatan program pembinaan
2. Pengumpulan data
3. Pelaksanaan pembinaan
4. Evaluasi dan tindak lanjut


Beberapa pertimbangan dalam penyusunan program supervisi
a. Keterlibatan aktif pengawas, Kepala Sekolah dan guru dalam menganalisis kebutuhan peningkatan program sekolah
b. Keefektifan kegiatan dipahami semua pihak di sekolah.
c. Efisiensi dalam pendayagunaa waktu, tenaga, dan biaya
d. Kontinyuitas pelaksanaan program dari waktu ke waktu
e. Fleksibilitas kegiatan perlu dilakukan tanpa mengurangi keefektifan kegiatan
2. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan merupakan kegiatan lapangan supervisor dengan mengadakan kunjungan/observasi tentang apa yang akan disupervisi sesuai dengan rencana program. Fungsi utama observasi adalah berusaha “menangkap” apa yang terjadi selama pembelajaran berlangsung secara lengkap, agar supervisor dan guru dapat secara tepat mengingat kembali pembelajaran atau bagian dari pembelajaran. Tujuan tahapan ini mengadakan analisis secara objektif terhadap situasi nyata pembelajaran yang berlangsung. Untuk mencatat atau merekam penampilan mengajar guru dan atau situasi pembelajaran yang akan diobservasi, dapat digunakan berbagai format atau instrumen observasi. Ide pokok adalah mencatat “apa yang terjadi” dan bukan “reaksi supervisor tentang apa yang terjadi”. Suatu catatan ataupun rekaman supervisi yang disimpan dengan baik akan bermanfaat dalam analisis dan komentar kemudian. Kepala sekolah dan atau pengawas perlu melatih diri agar memiliki kepekaan terhadap indikator-indikator yang menunjukkan sikap, perilaku dan proses yang produktif sesuai dengan tuntutan situasi kegiatan tertentu.


Hal-hal yang harus diperhatikan pada tahap observasi ini adalah:

a. Kelengkapan Catatan
Supervisor diharapkan untuk mencatat sebanyak mungkin kejadian-kejadian selama pembelajaran berlangsung. Hasil pencatatan merupakan bukti-bukti bagi guru dan supervisor untuk dikemukakan pada waktu menganalisis apa yang telah terjadi selama pelajaran berlangsung. Semakin spesifik yang digambarkan, semakin berarti analisis supervisor, oleh karena itu penggunan alat bantu perekam, baik audio maupun video, akan sangat membantu.

b. Fokus
Karena tidak mungkin untuk mencatat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas, maka supervisor harus memiliki aspek-aspek keterampilan yang akan dicatat. Hal ini sebaiknya dilakukan dengan persetujuan guru sebelumnya yaitu di dalam pertemuan pendahuluan, yang sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya diwujudkan dalam bentuk semacam kontrak. Misalnya dalam suatu pelajaran tertentu adalah baik untuk memfokuskan observasi tersebut pada reaksi siswa terhadap pernyataan guru, atau pada penyebaran pertanyaan, dan sebagainya.

c. Menyesuaikan Observasi dengan Periode Perkembangan Mengajar Guru
Observasi mungkin harus menjadi lebih selektif bila praktik atau latihan mengajar guru berkembang. Jika perhatian lebih terfokus pada aspek-aspek yang guru inginkan untuk lebih diperhatikan misalnya guru mempunyai kesulitan mengadakan transisi dalam pelajaran maka hal tersebut merupakan sesuatu yang perlu difokuskan dalam observasi.

d. Mencatat Komentar
Walaupun proses mencatat harus seobjektif mungkin, supervisor sering ingin mencatat komentar-komentarnya agar tidak terlupakan. Cara terbaik untuk melakukan hal ini adalah dengan memisahkan komentar dari catatan tentang proses pengajaran. Catatan ini ditempatkan pada tepi format observasi atau dengan menggunakan tanda kurung.

e. Pola
Adalah sangat bermanfaat untuk mencatat pola tingkah laku mengajar tertentu dari guru misalnya dalam memberikan penguatan atau dalam mereaksi terhadap pertanyaan siswa untuk dibicarakan dalam tahap pertemuan pengkajian hasil observasi mengajar.



Contoh lembar pengamatan:

Rubrik Penilaian Keterampilan Mengajar Berbasis CTL

Nama Praktikan :
Mata Pelajaran :

Berilah tanda cek (V) sesuai dengan hasil pengamatan Anda!
No Aspek Deskriptor Ya Tidak Bukti
1. Pendahuluan a. Mengaitkan kompetensi yang akan dicapai dengan konteks (masalah kehidupan, nyanyian, puisi, atau pertanyaan) yang sesuai dengan kompetensi
b. Mengemukakan kebermanfaatan kompetensi yang akan dicapai dalam kehidupan
2. Inti c. Melibatkan siswa untuk mengamati, menemukan, dan menerapkan kompetensi yang akan dipelajari
d. Menggunakan media dan memberi model (prosedur maupun produk) sesuai dengan kompetensi
e. Memberi kesempatan siswa untuk bekerja sama
f. Melakukan penilaian sehingga siswa tahu apakah kompetensi sudah tercapai
g. Memberdayakan pertanyaan provokatif untuk merangsang kemampuan berpikir kritis dan kreatif
h. Memberdayakan berbagai media dan teknik agar pembelajaran menyenangkan (siswa tidak tertekan, pemberian penguatan, pemberdayaan humor)
3. Penutup i. Melakukan refleksi tentang apa yang dipahami, dirasakan, dan diharapkan
j. Memberi pengayaan untuk memperluas dan memperdalam kompetensi

Catatan
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………

Kriteria Penilaian :
• Sangat baik : apabila terdapat 10 jawaban Ya
• Baik : apabila terdapat 8-9 jawaban Ya
• Cukup : apabila terdapat 6-7 jawaban Ya
• Kurang : apabila jawaban Ya < 6

3. Tahap Pelaporan
Laporan hasil pelaksanaan supervisi ditujukan kepada pimpinan dan kepada orang yang disupervisi. Kepada atasan atau pimpinan, laporan hasil supervisi dimaksudkan untuk memberikan laporan mengenai temuan-temuan yang diperoleh dari kegiatan supervisi dan selanjutnya dijadikan bahan untuk melakukan pembinaan kompetensi profesional bagi orang yang disupervisi.
Laporan untuk pihak yang disupervisi dimaksudkan sebagai balikan dalam upaya menyadarkan posisi kinerja dan meningkatkan kompetensi profesionalnya. Oleh karena itu, bahasa yang digunakan dalam laporan supervisi untuk pihak yang disupervisi, perlu memperhatikan aspek-aspek psikologis, fisiologis, latar belakang pendidikan, masa kerja, dan aspek lainnya yang berhubungan dengan harga diri pihak yang disupervisi.

CONTOH OUTLINE LAPORAN HASIL PELAKSANAAN SUPERVISI PENGAJARAN
1. Bab I Pendahuluan
A. Dasar Pemikiran (Menyajikan uraian tentang kedudukan dan pentingnya supervisi dalam pengelolaan pembelajaran).
B. Tujuan Supervisi (Menjelaskan tujuan supervisi kelas dalam kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan).
C. Manfaat (Menjelaskan dampak positif pelaksanaan supervisi).
D. Metode (Menjelaskan cara yang digunakan dalam melaksanakan supervisi kelas).
2. Bab II Pelaksanaan Supervisi
A. Waktu dan Sasaran (Menginformasikan kapan supervisi dilaksanakan dan siapa saja yang disupervisi).
B. Ruang Lingkup (Menjelaskan aspek-aspek yang disupervisi).
C. Instrumen yang Digunakan (Menjelaskan alat pengumpul data yang digunakan dalam kegiatan supervisi).
D. Teknik Analisis Data (Menjelaskan teknik perhitungan yang digunakan dalam mengolah data untuk merumuskan kesimpulan).

E. Temuan (Melaporkan hasil yang diperoleh sesuai dengan ruang lingkup).
F. Pemecahan Masalah (Menjelaskan langkah pemecahan masalah yang telah dilakukan pengawas).


3. Bab III Hasil Supervisi
(Memaparkan tentang tingkat ketercapaian masing-masing tujuan supervisi).
4. Bab IV Kesimpulan dan Rekomendasi
A. Kesimpulan (Menyajikan kesimpulan atas hasil supervisi pengajaran yang telah dilaksanakan).
B. Rekomendasi (Menyajikan beberapa rekomendasi ke arah pembinaan dan peningkatan profesional guru dalam PBM).

4. Tahap Tindak Lanjut
Tindak lanjut merupakan suatu informasi kepada guru tentang bagaimana guru mempengaruhi siswanya dalam kegiatan belajar mengajar. Tindak lanjut ini biasanya dilakukan dengan supervisi kelas. Untuk mencapai maksud tersebut maka tindak lanjut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Lebih Bersifat Deskriptif daripada Evaluatif : Fungsinya adalah analisis untuk menghasilkan perubahan dengan memperinci tingkah laku guru sebagai hasil mengajarnya. Hal tersebut akan menolong guru untuk kemudian dapat menggunakannya apabila itu sesuai. Dengan menghindari bahasa yang lebih bersifat evaluatif maka akan terkurangi reaksi atau sikap defensif guru.
b. Bersifat Spesifik: Menjelaskan lebih rinci tentang apa yang masih harus diperbaiki atau dikembangkan guru dalam metoda dan stategi mengajarnya.
c. Memenuhi Kebutuhan Baik Supervisor Maupun Guru: Suatu balikan tidak akan bermanfaat apabila ia hanya memenuhi kebutuhan supervisor sebagai pemberi balikan dan mengabaikan kebutuhan guru sebagai penerima balikan tersebut.
d. Ditujukan untuk Tingkah Laku Guru yang Cepat Dikendalikanny: Seorang guru akan mengalami frustrasi apabila ia diingatkan tentang sesuatu kekurangan yang berada di luar kemampuannya untuk diatasi atau dipecahkan, misalnya supervisor menegur karena tubuhnya yang pendek sehingga ia sukar menguasai kelas dengan baik. Untuk hal ini tentu guru tidak dapat berbuat apa-apa.
e. Isi Balikan Merupakan Permintaan Guru dan Bukan yang Diadakan oleh Supervisor
f. Tepat Waktunya: Balikan akan lebih bermanfaat apabila segera diberikan sesudah pelaksanaan mengajar.
g. Harus Terkomunikasikan secara Jelas Kepada Guru: Untuk melakukan hal ini guru diminta untuk mengatakan kembali apa yang menjadi target serta perhatian utamanya guna membandingkan dengan yang dimaksud oleh supervisor.
h. Mencocokannya dengan yang Diberikan Kelompok: Apabila balikan itu diberikan dalam kelompok, maka guru dan supervisor harus mempunyai kesempatan untuk mencocokannya dengan yang diberikan kelompok untuk menguji ketepatan balikan tersebut. Dengan demikian dapat di-ketahui apakah balikan tersebut merupakan kesan satu orang atau merupakan kesan orang lain juga.


i. Menolong Guru Memperhatikan Kelebihannya
Harus dapat menolong guru memperhatikan kelebihan-kelebihannya untuk mengembangkan gaya mengajarnya sendiri. Dalam hal ini perlu diberi penguatan untuk cara mengajar yang efektif tersebut.
j. Menunjukkan keunggulan-keunggulan: Hendaknya dimulai dulu dengan menunjukkan keunggulan-keunggulan atau segi-segi yang kuat, baru kemudian mendiskusikan segi-segi yang menimbulkan masalah baginya.
k. Data balikan harus disimpan dengan baik: Data balikan dalam bentuk instrumen observasi harus disimpan dengan baik oleh supervisor dan merupakan catatan mengenai perkembangan keterampilan mengajar guru, seperti kartu status pasien seorang dokter yang sewaktu-waktu dapat digunakan bila diperlukan.

Umpan balik yang efektif setelah supervisi adalah: (1) Memfokuskan pada perilaku dan bukan pada sentimen pribadi, (2) Fokus satu aspek, (3) Mengarah pada perilaku yang bisa diubah, (4) Mengarah pada AKIBAT dan bukan PENYEBAB dari suatu masalah, (5) Jelas, (6) Memberi umpan balik tepat waktu, (7) Memuji di depan publik, mengkritik secara pribadi, (8) Memeriksa apakah umpan balik bisa dimengerti, (9) Memisahkan umpan balik yang negatif dan positif, (10) Menyesuaikan umpan balik dengan kepribadian orang tersebut, (11) Menjelaskan dan bukan menghakimi, (12) Konstruktif (13) Menyediakan waktu untuk diskusi dan tindak lanjut

Dalam pelaksanaan supervisi pengajaran, selalu terkait antara supervisi kelas dan supervisi klinis. Atau dapat dikatakan bahwa kedua macam supervisi tersebut dilakukan bersama-sama tanpa batas. Permasalahan yang tidak terselesaikan di supervisi kelas dilanjutkan pada supervisi klinis.
Contoh Pelaksanaan Supervisi Pengajaran di Sekolah
Berdasarkan data hasil evaluasi belajar mata pelajaran, misalnya matematika di sekolah “X”, menunjukkan kurang menggembirakan (hanya men-capai nilai 4 berdasarkan standar 10. Seorang Supervisor (kepala sekolah/pengawas) bermaksud untuk memperbaiki kondisi pembelajaran mata pelajaran matematika tersebut. Kepala sekolah/Peng-awas menyusun program kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut dengan mengikuti langkah pe-nyusunan program supervisi pengajaran (lihat contoh format 1).
Sesuai dengan kesempatan yang dimilikinya, mulailah kepala sekolah/pengawas melaksanakan program tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengunjungi sekolah “X” dan mengadakan observasi kelas dengan membawa instrumen supervisi berupa format-format observasi kelas.
b. Setelah observasi kelas, selanjutnya mengadakan diskusi dengan guru yang bersangkutan untuk menemukan kesepakatan tentang faktor-faktor yang positif (kelebihan) dan negatif (kekurangan) yang dilakukan guru tersebut.
c. Hasil kesepakatan tersebut digunakan untuk penyusunan alternatif kegiatan memperbaiki hal-hal yang negatif dan meningkatkan hal-hal yang positif.
d. Alternatif kegiatan perbaikan/peningkatan terpilih yang telah disepakati oleh kepala sekolah/pengawas dengan guru dijadikan program kegiatan supervisi kelas.
e. Setelah program supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah/pengawas, kemudian disusun laporannya.
f. Laporan yang telah disusun untuk selanjutnya dipakai sebagai laporan pelaksanaan tugas seorang supervisor dan atau digunakan untuk bahan kajian dalam penyusunan kegiatan tindak lanjut.

Dari kasus siklus kegiatan supervisi kelas terdahulu perlu ditindaklanjuti. Ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan oleh supervisor dalam menindaklanjutinya, antara lain:
a. Supervisor memberi bimbingan langsung kepada guru yang bersangkutan untuk memecahkan masalah yang ditemukan pada saat supervisi kelas.
b. Mengadakan bimbingan kelompok dalam kesempatan pertemuan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) atau dalam PKG (Pusat Kegiatan Guru) dan atau sejenisnya.
c. Memberikan kesempatan kepada guru untuk mencobakan alternatif pemecahan yang terpilih.
d. Berkunjung ke kelas lain (pembelajaran guru lain) untuk mengambil pengalaman-pengalaman pembelajaran yang bermanfaat untuk dirinya.
e. Kepala sekolah/pengawas melaksanakan supervisi klinis.
f. Hasil supervisi klinis selanjutnya digunakan untuk menyusun laporan pelaksanaan tugas dan atau menyusun program supervisi klinis berikutnya.

Dari contoh di atas, perlu beberapa teknik supervisi. Ada beberapa contoh teknik supervisi, antara lain:
a. Kelompok Diskusi Terfokus ( Focus Group Discussion ): Diskusi yang dilakukan oleh guru dengan fokus seputar masalah pembelajaran. FGD dapat dilakukan oleh guru dengan berbagai variasi pengalaman dan pengetahuan
b. Penelitian Tindakan Kelas ( Classroom Action Research ): Kegiatan guru untuk melakukan refleksi secara berkelanjutan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan
c. Porto Folio ( Portfolio): Guru mengumpulkan berbagai hasil kerja untuk dijadikan sebagai bahan refleksi dan meminta pertimbangan serta masukan dari orang lain. Dapat dilakukan oleh semua guru
d. Bantuan Sejawat ( Peer Assistance ): Dua atau lebih guru dari sekolah yang sama bersepakat mengadakan pertemuan rutin untuk melakukan perencanaan, pengamatan, umpan balik, pemecahan masalah dan berfikir kreatif guna meningkatkan kualitas pembelajarannya
e. Kerjasama ( Network ): Dua atau lebih guru dari sekolah yang berbeda yang bersepakat mengadakan pertemuan rutin untuk melakukan perencanaan, pengamatan, umpan balik, pemecahan masalah dan berfikir kreatif guna meningkatkan kualitas pembelajarannya.


f. Mentoring: Proses pemberian bantuan oleh seorang mentor kepada satu atau beberapa guru mentee guna meningkatkan kapasitas mereka
Mentor: Dosen, Guru berpengalaman, Kepala sekolah, dll
Mentee: Guru baru, belum berpngalaman, ingin mempelajari pendekatan terbaru, dll
Sumber lain membagi teknik supervisi sebagai berikut: (1) Kunjungan Kelas, (2) Pertemuan Pribadi, (3) Rapat Dewan Guru, (4) Kunjungan antar Kelas, (5) Kunjungan Sekolah, (6) Kunjungan antar Sekolah, (7) Penerbitan Buletin Profesional, (8) Penataran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar